Pemda Saitama Jepang Buka Pendaftaran Perjodohan dengan Bantuan Robot AI

Pemda Perfektur Saitama memperkirakan setelah Olimpiade 2020 jumlah penduduk banyak berkurang. Oleh karena itu perlu mengaktifkan perjodokan.

Pemda Saitama Jepang Buka Pendaftaran Perjodohan dengan Bantuan Robot AI
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Poster ajakan pendaftaran kalangan single di Jepang untuk perjodohan di Perfektur Saitama Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Jumlah penduduk Jepang akan mencapai titik kritis beberapa tahun mendatang.

Bahkan Pemda Perfektur Saitama memperkirakan setelah Olimpiade 2020 jumlah penduduk banyak berkurang. Oleh karena itu perlu mengaktifkan perjodokan.

"Sudah waktunya untuk meningkatkan upaya menjodohkan satu sama lain di Perfektur Saitama agar jumlah perkawinan bisa meningkat dan pada akhirnya meningkat jumlah anak yang akan menjadi generasi mendatang," kata Takashima Kiyoshi, Kepala Divisi Kebijakan Pemda Saitama, Jumat (3/8/2018).

Sejak tanggal 1 Agustus hingga 3 Agustus lalu Pemda Saitama melakukan pendaftaran bagi para single baik pria maupun wanita yang belum menikah.

Baca: Mantan Wasekjen PKS Dukung Fahri Hamzah Temui Anis Matta

Pendaftaran 15.000 yen per orang untuk berbagai kegiatan dilakukan selama tiga hari dalam acara tersebut.

Peserta ditanya berbagai hal dengan 100 daftar pertanyaan.

Data yang diterima dimasukkan ke komputer, berkat bantuan robot atau AI (Artificial Intellectual), data diolah atau dianalisa otomatis dan ditemukan hasil siapa kira-kira yang mendekati atau cocok dengan pasangan sang peserta.

Upaya mencarikan pasangan atau perjodohan ini juga terjadi di banyak tempat di Jepang.

Namun secara resmi oleh pemerintah dan menggunakan AI ini baru pertama kali dilakukan oleh Pemda Saitama.

Baca: Bule Perempuan Asal Inggris Penampar Petugas Imigrasi Bandara Ngurah Rai Kecewa Tak Jadi Sidang

Kegiatan serupa akan dilakuklan lagi di masa mendatang oleh Pemda Saitama mengingat perhatian yang sangat besar dari masyarakat mengenai cara perjodohan tesebut.

Warga Jepang sangat realistis dan percaya dengan teknologi serta hitungan atau analisa data.
Penggunaan analisa data yang diperoleh dari setiap peserta dan hasil AI cocok dengan orang yang disarankannya, cukup dipercaya para peserta.

"Mudah-mudahan saja hasilnya benar sehingga saya bisa mendapatkan pasangan yang cocok," ungkap Suzuki, salah seorang peserta kepada Tribunnews.com, Jumat (3/8/2018).

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help