Sebanyak 30% Pemkot di Jepang Tidak Bisa Mengikuti Budaya Orang Asing

Di kota Oarai tidak sedikit orang Indonesia berada di kota yang berada di pinggir laut ini.

Sebanyak 30% Pemkot di Jepang Tidak Bisa Mengikuti Budaya Orang Asing
NHK
Contoh survei yang diajukan NHK kepada 50 pemkot di Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, Tokyo - Sebanyak 30% pemerintahan kota (pemkot) di Jepang dari 50 kota yang di survei NHK bulan lalu, ternyata para petugas pemda mengakui tidak bisa mengikuti budaya para orang asing yang tinggal di kotanya.

"Saya masih belum mengerti pola pikir orang asing yang tinggal di Jepang, Kita masih bingung menghadapi mereka," ungkap Saito seorang pegawai kota Oarai di perfektur Ibaraki kepada tribunnews.com Rabu ini (5/12/2018).

Di kota Oarai tidak sedikit orang Indonesia berada di kota yang berada di pinggir laut ini. Banyak yang membantu bidang perikanan, restoran dan pabrik-pabrik yang ada di sana.

Masalah yang dihadapi pemkot di Jepang sesuai survei NHK tersebut, 41% terutama mengenai masalah bahasa asing karena pemkot di Jepang masih banyak yang tidak bisa berbahasa asing, baik Inggris maupun bahasa lainnya.

Selain itu sebanyak 70% pemkot di Jepang berharap semakin banyak dukungan finansial dibantu pemerintah pusat untuk menangani para orang asing yang ada di kota mereka.

Kedatangan orang asing menjadi kebutuhan tambahan seperti pelayanan dalam bahasa asing, perlu SDM (sumber daya manusia) penerjemah dan sebagainya di berbagai bidang termasuk di bidang pendidikan.

Sebanyak 28 pemkot mengeluhkan masalah pembuangan sampah yang sembarangan dilakukan orang asing yang ada di Jepang. Akibatnya terjadi keributan antar tetangga gara-gara buang sampah tersebut.

Kemudian 18 pemda mengeluhkan mengenai dukungan pendidikan bagi orang asing, kebutuhan sumber daya manusi ayang bisa berbahasa asing dan mengetahui pola pikir orang asing tersebut.

Lalu 11 pemkot mengeluhkan kurangnya informasi mengenai bencana alam khususnya bagi orang asing dalam berbagai bahasa untuk bisa memperlengkapi dan bantuan bagi para orang asing apabila terjadi bencana alam di Jepang.

Kemudian di kota Echizen Fukui terutama SD Takefunishi, jumlah pelajar asingnya sudah seperlima dari seluruh pelajar Jepangnya. Dari 355 pelajar ternyata 79 pelajar adalah orang asing.

Oleh karena itu pemkot Echizen sangat membutuhkan buku dalam bahasa asing karena sudah semakin banyak berlipat ganda jumlah orang asing di kota tersebut.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved