Senin, 13 April 2026

Shunga dan Wajah Terbuka Seksualitas Jepang pada Zaman Edo

Dulu hiburan populer, kini shunga dipelajari serius dan dipamerkan dunia. Seni erotis Edo merekam cara Jepang memandang cinta, tubuh dan kehidupan

Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/Richard Susilo
SENI TRADISIONAL JEPANG - Poster pameran Sunga di Kabukicho Tokyo Jepang sampai dengan 15 Maret 2026 (Richard Susilo) 

Ringkasan Berita:
  • Shunga, seni erotis tradisional Jepang yang berkembang pesat pada periode Edo (1603–1868), kini mendapat pengakuan luas sebagai bagian penting sejarah seni dan budaya Jepang 
  • Dulu dianggap hiburan dewasa, shunga berfungsi sebagai panduan rumah tangga, hadiah pernikahan, hingga media humor dan kritik sosial 
  • Karya ini mencerminkan pandangan masyarakat Edo yang relatif terbuka terhadap seksualitas. Kini, shunga dipamerkan dan diteliti secara global sebagai dokumen budaya bernilai tinggi.

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO  Shunga, seni erotis tradisional Jepang yang berkembang pesat pada periode Edo (1603–1868), kini semakin mendapat pengakuan sebagai bagian penting dari sejarah seni dan budaya Jepang

Dahulu dianggap sebagai hiburan populer masyarakat, shunga kini dipelajari secara serius oleh akademisi dan dipamerkan di museum-museum internasional.

"Pameran di Kabukicho ini yang kedua kalinya, sebelumnya dilakukan tahun lalu," papar kurator pameran Shoko Nakamura khusus kepada Tribunnews.com kemarin (16/2/2026).

Secara harfiah, shunga berarti “gambar musim semi”, sebuah istilah yang dalam budaya Jepang merujuk pada cinta dan hubungan intim. Karya-karya shunga umumnya dibuat dalam bentuk cetakan balok kayu atau ukiyo-e, dengan penggambaran detail hubungan manusia yang eksplisit namun artistik.

Berbeda dengan pandangan modern yang sering mengaitkan karya erotis dengan pornografi, pada masa Edo shunga memiliki fungsi sosial yang luas. 

Baca juga: Pekerja Asing di Iwate Jepang Capai Rekor Tertinggi, Vietnam Terbanyak

Banyak pasangan suami istri menggunakan shunga sebagai panduan kehidupan rumah tangga. 

Karya-karya ini juga kerap diberikan sebagai hadiah pernikahan atau sekadar hiburan bagi kalangan dewasa.

Sejumlah seniman besar Jepang turut menciptakan karya shunga, termasuk pelukis ukiyo-e ternama. 

Hal ini menunjukkan bahwa seni erotis tidak dianggap terpisah dari seni arus utama pada masa itu.

Para peneliti budaya Jepang menilai shunga mencerminkan pandangan masyarakat Edo yang relatif terbuka terhadap seksualitas. 

"Meskipun demikian karya yang dipamerkan di sini umumnya tidak diketahui siapa pelukisnya di jaman Edo, karena mungkin malu untuk diketahui namanya sebagai pelukis erotis," katanya.

Selain unsur sensual, banyak karya shunga memuat humor, narasi kehidupan sehari-hari, hingga kritik sosial.

"Itulah sebabnya banyak karya Shunga hanya sebesar kartu saja sekitar 12x9 cm saja agar mudah disembunyikan dimasukkan ke kantong baju kita."

Dalam beberapa dekade terakhir, minat terhadap shunga meningkat secara global. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved