Minggu, 26 April 2026

Mahasiswa Indonesia Ciptakan Solar Air

Solar Air, diklaim berkekuatan sama dengan solar biasa dan dapat menghemat penggunaan solar hingga 10 persen.

Editor: Rendy Sadikin
TRIBUN JABAR /GANI KURNIAWAN
BELUM BERLAKU - Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar ke kendaraan roda empat di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Selasa (5/8/2014). SPBU di Kota Bandung masih belum memberlakukan pembatasan pengisian solar bersubsidi dari pukul 8.00 - 18.00 WIB, karena baru akan dirapatkan bersama Pertamina Region 3 pada 6 Agustus 2014. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN 

TRIBUNNEWS.COM, DEPOK - Jika pemerintah berupaya membatasi solar, Fakultas Teknologi Industri Universitas Trisakti dari Program Studi Teknik Mesin justru berhasil membuat inovasi untuk penghematan solar dengan menciptakan bahan bakar pengganti yang mereka beri nama Solar Air.

Solar Air memiliki bahan utama solar sebanyak 70 persen, ditambah bahan zat adiktif 20 persen dan air 10 persen. Solar Air, diklaim berkekuatan sama dengan solar biasa dan dapat menghemat penggunaan solar hingga 10 persen.

Wakil Dekan Universitas Trisakti Dr Ing AC Arya mengatakan inovasi solar air yang merupakan hasil kerja dan inovasi, serta hasil pengembangan mahasiswanya merupakan terobosan baru yang sangat membanggakan pihaknya.

Menurut Arya ditengah kisruh subsidi BBM dan kelangkaan bahan bakar solar yang ramai dibicarakan, mahasiswa Trisakti langsung berinovasi untuk menghemat penggunaan solar dengan menciptakan solar air ini.

"Seluruh jajaran Universitas Trisakti sangat Bangga dengan kerja keras yang dilakukan oleh para mahasiswa dari Fakultas Teknologi Industri Universitas Trisakti, Program Studi Teknik Mesin," kata Arya, Senin (11/8/2014).

Karenanya, kata dia, pihaknya akan mendukung penuh inovasi ini, dan berharap akan bermanfaat bagi masyarakat luas, setelah nanti ditawarkan pembuatannya secara massal kepada pemerintah maupun swasta.

"Jelas bahwa inovasi ini akan sangat bermanfaat bagi masyarakat luas terutama pengguna solar, diantaranya adalah nelayan," kata Arya.

Menurut Arya, solar air dicoba di kapal cepat dengan mengelilingi 69 pulau di Kepulauan Seribu, yang dimulai padA Minggu (10/8/2014) dan akan berakhir dalam 5 hari ke depan. "Hasil ujicoba untuk sementara ini sangat memuaskan," katanya.

Ketua Panitia Uji Coba Bahan Bakar Solar Air, Dimas Airlangga, yang merupakan Mahasiswa Fakultas Teknik Industri Universitas Trisakti yang ikut berperan dalam inovasi solar air ini berharap inovasi solar air ini menjadi salah satu solusi, permasalahan BBM di Indonesia.

"Kami akan mengelilingi 69 pulau di Kepulauan Seribu ini dengan bahan bakar solar air ini dimana perjalanan sampai 5 hari. Sampai saat ini hasilnya sangat memuaskan setelah beberapa pulau kami kelilingi," katanya, Senin (11/8/2014).

Menurut Dimas, jika ujicoba dengan mengelilingi 69 pulau di Kepulauan Seribu selama lima hari berhasil, barulah solar air akan ditawarkan untuk digunakan oleh masyarakat umum, dan nelayan secara khusus.

Dimas menjelakan Solar Air yang terdiri dari 70 persen solar, 20 persen bahan adiktif dan 10 persen air, sangat aman bagi lingkungan dan tidak memiliki efek merusak.

"Solar air ini termasuk bio solar yang sangat aman bagi lingkungan, sekaligus tidak akan merusak mesin," ujar Dimas. Ia mengatakan inovasi dan uji coba solar air ini juga akan dipersembahkan untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI yang 69 pada 17 Agustus 2014 mendatang.(Budi Sam Law Malau)

Sumber: Warta Kota
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved