Jangan Sampai Karena Isu Impor Beras, Harga dari Petani Rusak kata Moeldoko

Pemerintah memutuskan untuk mengambil langkah impor demi mengamankan pasokan beras. Sebanyak 500 ribu ton beras akan segera didatangkan dari Thailand

Jangan Sampai Karena Isu Impor Beras, Harga dari Petani Rusak kata Moeldoko
TRIBUN/HO
Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko bersama Menteri Pertanian Amran Sulaiman memanen padi menggunakan mesin di lahan pertanian Desa Karang Layung, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Kamis (23/11/2017). Kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk rasa syukur para petani untuk bisa bangkit kembali setelah sebelumnya hasil pertanian mereka diserang organisme pengganggu tumbuhan (OPT). TRIBUNNEWS/HO 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah memutuskan untuk mengambil langkah impor demi mengamankan pasokan beras.

Sebanyak 500 ribu ton beras akan segera didatangkan dari Thailand dan Vietnam pada akhir bulan ini.

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan, beras yang akan diimpor adalah beras kualitas khusus dengan harga medium. Jenis beras tersebut memiliki spesifikasi bulir patah di bawah lima persen.

Keputusan impor diambil karena saat ini tengah terjadi kelangkaan pasokan beras medium yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat kelas menengah ke bawah.

Adapun perusahaan yang ditunjuk untuk melakukan impor adalah Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI).

Menanggapi hal ini, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko menilai, pemerintah harus berhati-hati dalam memutuskan impor. Jangan sampai berita keputusan impor ini membuat resah masyarakat dan petani. Sehingga harga gabah anjlok saat panen raya sebentar lagi.

"Ini yang perlu dipahami, berdasarkan grafik nasional, panen yang paling bagus adalah bulan Februari sampai April. Karena fotosintesisnya bagus, curah hujan juga bagus. Dan bulan Maret-April adalah peak panen. Jangan sampai karena isu impor harga dari petani rusak," ungkap Moeldoko, Jumat (12/1).

Menurut Moeldoko, impor beras bisa dilakukan jika produksi beras di dalam negeri memang mengalami kekurangan. Sedangkan saat ini, dia menilai produksi beras masih cukup. Apalagi, kata dia, selama ini para petani juga sedang berusaha keras menggiatkan peningkatan produksi padi.

"Jika impor beras hanya karena masalah harga beras yang naik di pasaran, maka yang harus diperbaiki adalah tata kelola distribusi beras. Apalagi, pada Februari mendatang akan mulai ada panen di sejumlah daerah. Saat panen, harga gabah dan beras akan turun lagi," tuturnya.

Moeldoko mengakui, grafik panen setelah bulan April hingga Agustus cenderung menurun. Oleh sebab itu, harus dilakukan upaya agar grafik panen ini tidak naik turun, melainkan selalu ada panen di setiap bulan.

Halaman
12
Editor: Toni Bramantoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved