Merapi Meletus

Bandingkan Rumah Mbah Maridjan Sebelum dan Sesudah Merapi Meletus

Membicarakan Mbah Maridjan akan lebih lengkap bila menilik kondisi rumah tempat tinggalnya yang hanya berjarak 4 kilometer dari mulut kawah Merapi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Membicarakan Mbah Maridjan akan lebih lengkap bila menilik kondisi rumah tempat tinggalnya yang hanya berjarak 4 kilometer dari mulut kawah Merapi, gunung paling aktif di dunia yang berada di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan DIY.

Rumah Mbah Maridjan tepatnya di dusun dusun Kinahrejo, desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Jogjakarta bertetangga dengan kerabat, tetangga dan anak cucunya. Rumah rumah di tempat ini menggunakan atap genting pada umumnya, berdinding tembok atau beton dan kayu biasa.

Lingkungan rumah ini membentuk seperti huruf L sehingga tersedia halaman untuk parkir mobil dan sepeda motor. Mbah Maridjan selain sebagai Juru Kunci Gunung Merapi juga ramah menemui para pendaki yang akan meneruskan ke puncak merapi. Kendaraan mereka sering diparkir di halaman rumahnya, tapi ada juga yang dibawa ke atas bagi yang berani membawa kendaraan.

Beberapa tokoh sudah mengunjungi lokasi ini seperti alm doktor Riswanda Imawan pengamat politik UGM, Roy Suryo pakar telematika, Ki Joko Bodo paranormal berambut gondrong. Bahkan Ki Joko Bodo pernah mengajak mengadakan ritual bersama Mbah Maridjan tahun 2006 ketika Merapi hampir meletus.

Mbah Maridjan pada waktu tertentu juga mengadakan semacam upacara atau ritual untuk mendoakan keselamatan masyarakat sekitar dan berdoa kepada Tuhan untuk melindungi ummat bila gunung Merapi memang mau meletus sesuai kehendakNya.  Terkadang Mbah Maridjan juga mengenakan pakaian beskap Jawa lengkap gaya Jogyakarta bersama para tetangga dan kerabatnya untuk mengadakan ritual ini.

Sejak Gunung Merapi menyemburkan awan panas usai meletus tanggal 26 Oktober 2010 menyapu area arah selatan di radius terdekat sekitar 6 kilometer dari puncak, rumah Mbah Maridjan dan masjid Al Amien turut luluhlantak.  Demikian juga Mbah Maridjan ditemukan wafat dalam kondisi sujud sehari kemudian di dekat masjid tersebut.

Bisa dibayangkan, jarak rumah dengan puncak Merapi hanya 4 kilometer padahal kecepatan awan wedhus gembel bersuhu 600 derajat celcius itu bisa meluncur maksimal 300 kilometer perjam.

Tanggal 15 Mei 2006 gunung Merapi meletus dan 4 Juni 2006 juga meletus mengeluarkan lava dari kubah mengalir melalui sungai-sungai dari puncak ke lereng. Di belakang rumah Mbah Maridjan juga ada sungai yang biasa dilalui oleh lahar.

Tapi sungai tersebut bisa dibilang "sudah penuh material" oleh letusan tahun 2006 sehingga ketika meletus lagi tahun 26 Oktober 2010 diperkirakan semburan lahar dan awan panas langsung menerjang permukiman dusun Kinahrejo tanpa masuk ke sungai tersebut. (*)

Penulis: Iswidodo
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved