Lebih Dekat dengan Hakim Kasus Susno Duadji

Tetap Enjoy Bermotor Butut di Tengah Gelimang Kasus Besar (II)

Pengadilan Negeri Padang, Sumatera Barat menjadi tonggak awal bagi seorang Haswandi dalam menapaki jalan hidupnya sebagai seorang hakim

Tetap Enjoy Bermotor Butut di Tengah Gelimang Kasus Besar (II)
TRIBUNNEWS.COM/BIAN HARNANSA
Haswandi, merupakan Hakim yang bertugas di PN Jakarta Selatan. Ia selalu menggunakan sepeda motornya untuk berangkat dan pulang kerja. Saat ini menjadi Hakim Anggota dalam persidangan dugaan korupsi Pilkada Jabar dan Arowana dengan terdakwa Komjen Pol Susno Duadji
Laporan Wartawan Tribunnnews.com, Yogi Gustaman

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengadilan Negeri Padang, Sumatera Barat menjadi tonggak awal bagi seorang Haswandi dalam menapaki jalan hidupnya sebagai hakim. Hiruk-pikuk sidang, ketuk palu hakim, putusan dan debat menjadi magnet tersendiri bagi Haswandi yang kala itu masih duduk sebagai mahasiswa hukum Universitas Andalas, Padang.

Praktikum mahasiswa hukum untuk turun, menyimak, dan memerhatikan jalannya sidang, baik perdata dan pidana, belum ada pada jaman Haswandi waktu itu. Jarak pengadilan yang tak lebih 100 meter jauhnya dari kampus, menjadi alasan kenapa Haswandi kerap 'nongkrong' di sana.

"Karena sering main di sana, melahirkan keinginan saya menjadi hakim. Ini murni dorongan pribadi saya sendiri, bukan ajakan teman kampus. Waktu itu belum jamannya mahasiswa praktikum di persidangan," kenang Haswandi dalam perbincangan di kantornya, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (22/12/2010) lalu.

Fitrah orangtuanya sebagai kaum Oemar Bakrie, tak menurun pada Haswandi. Beruntung ayahnya cukup demokratis terhadap tujuan pendidikan anaknya itu, yang memilih menjadi hakim. Satu pilihan rasionalnya saat itu ingin menegakkan keadilan sebuah perkara hukum.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Persentuhannya dengan dunia hakim sejak mahasiswa berbuah manis. Sejak 1985, ia masuk menjadi calon hakim di Pengadilan Negeri Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Di sini ia bertahan hampir empat tahun lamanya. "Ini adalah amanah yang harus kita laksanakan dengan baik dan benar," ungkapnya.

Kompleksitas mulai muncul. Aroma dunia hukum yang dalam faktanya berbeda dengan teori di atas kertas kuliah sudah dirasakannya. Tapi Haswandi tak terlena dengan itu. Ia mengaku sikap berdiri di tengah, terbebas dari sengketa perkara berat, tapi harus dijalani.

"Kuncinya tak boleh terlibat dalam perkara itu. Bahkan secara kebatinan pun tidak," katanya memberi resep.

Lewat manajemen ini, Haswandi melanjutkan, konflik batin tak pernah hadir dalam lingkup kehidupan keluarganya. Ia mengaku tetap tenang ke mana-mana menggunakan motor untuk berdinas dari rumah ke pengadilan, tanpa harus terbebani atas putusan yang ia buat selama ini.

Penulis: Y Gustaman
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved