Mahfud MD: Islam Rahmatan Lil’alamiin, Tidak Mengancam, Tidak Usil terhadap Keyakinan Orang Lain

Kemajemukan Indonesia bukan hanya majemuk agama, suku, ras, daerah, bahasa melainkan juga di internal satu agama sendiri.

Mahfud MD: Islam Rahmatan Lil’alamiin, Tidak Mengancam, Tidak Usil terhadap Keyakinan Orang Lain
Istimewa
Mahfud MD bersama para alumni Universitas Islam Indonesia (IKA-­UII) Yogyakarta 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dalam konteks Indonesia yang majemuk atau multikultural Islam yang dikembangkan di Indonesia adalah Islam moderat, yakni Islam inklusif dan menerima perbedaan sebagai fitrah (keniscayaan) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Penerimaan (akseptasi) atas perbedaan itu berlaku baik di internal umat Islam sendiri maupun antara umat Islam dengan umat-umat yang beragama lain," ungkap Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Islam Indonesia (IKA-­UII) Yogayakarta, Mahfud MD kepada Tribunnews.com saat menyampaikan pesan pada acara Jalan Sehat IKA-UII DKI Jakarta di kawasan Semanggi, Minggu (29/4/2018) pagi.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi RI periode 2008-2013 itu juga mengatakan bahwa kemajemukan Indonesia bukan hanya majemuk agama, suku, ras, daerah, bahasa melainkan juga di internal satu agama sendiri.

"Kita lihat saja misalnya, di dalam Islam masih beragam juga aliran pemahamannya tentang berbagai hal mulai dari fiqh ibadah sampai ke fiqh muammalah," kata Mahfud.

Oleh sebab itu menurutnya para pendiri negara kita sudah tepat memilih Pancasila sebagai dasar ideologi yang dalam hubungan antara negara dan agama menganut religious nation state, negara kebangsaan yang berketuhanan.

Guru Besar serta Ketum Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-­HAN) se-Indonesia itu juga mengatakan di dalam religious nation state setiap orang menerima perbedaan dan tidak boleh berlaku diskriminatif terhadap pihak lain.

"NKRI ibarat sebuah rumah yang banyak kamarnya dengan penghuninya masing­masing. Pada saat di dalam kamar setiap orang boleh memakai baju apa saja, menyetel channel teve apa saja, memakai ac atau kipas angin dengan suhu yang dikehendaki masing-masing," ujar Mahfud.

Tetapi jika sudah di ruang keluarga, maka televisinya harus dalam channel yang sama, beragam menu makanannya dinikmati bersama.

"Itulah Bhinneka Tunggal Ika. Itulah pluralisme," kata Mahfud MD mengutip pengibaratan yang pernah disampaikan oleh mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Halaman
12
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help