Grup Bakrie Siap Inves Sampai 300 Juta Dolar AS Untuk Kembangkan Bus Listrik

"Kita dalam waktu dua atau tiga tahun kedepan, memperkirakan akan ada investasi sebesar 250 juta sampai 300 juta dolar"

Grup Bakrie Siap Inves Sampai 300 Juta Dolar AS Untuk Kembangkan Bus Listrik
IST/ANDINI
Satu dari 2 unit bus listrik yang dipamerkan PT Bakrie & Brothers Tbk di pertemuan tahunan Bank Dunia dan IMF di Nusa Dua Bali, Oktober 2018. Bus ini diproduksi pabrikan bus listrik darfi China, BYD Auto Co. Ltd. 

Laporan Reporter Grid Oto, Naufal Shafly

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Bakrie & Brothers (BNBR) sangat serius dalam menyediakan layanan transportasi bus listrik, mereka bahkan siap gelontorkan dana besar di tahap awal pengembangan.

Dalam rencana tersebut, BNBR mengatakan pihaknya bukan menjual bus listrik, melainkan menjual layanan jasa bus listrik.

"Investasi kita ini tidak jualan bus, tapi kita jualan layanan jasa, jadi kita akan datang menawarkan proposal, ini akan dinamis sekali untuk menjangkau keperluan tiap kotanya," ujar Bobby Gafur Umar, Direktur Utama PT Bakrie & Brothers Tbk.

"Misalnya kota tersebut membutuhkan (kendaraan untuk mengangkut) 500 ribu orang masuk tiap hari, itu sistem pembayarannya bisa dihitung per-penumpang atau per-kilometer," sambungnya.

Bobby menjelaskan, pihaknya belum melakukan pembicaraan hingga sejauh itu dengan para calon konsumen. Saat ini komunikasi yang dilakukan masih sebatas perkenalan.

Baca: Konsumen Ini Curhat Nasib Uangnya yang Sudah Disetor Untuk Beli Apartemen di Meikarta

"Nah di tahap perkenalan ini, kita mulai marketing, perkiraan kita, kurang dari enam bulan kita sudah bisa masuk ke masing-masing Pemerintah daerah (Pemda) atau lokasi-lokasi yang menggunakan bus kita," kata dia.

Baca: Ultah Ke-67, Prabowo Traktir Komunitas Emak-emak Makan Bareng di Pujasera Blok M

Berapa investasi yang digelontorkan BNBR untuk menyediakan layanan transportasi bus listrik?
"Kita dalam waktu dua atau tiga tahun kedepan, memperkirakan akan ada investasi sebesar 250 juta sampai 300 juta dolar," ungkapnya.

Tetapi hal itu baru sebatas perkiraan, pihaknya masih perlu mengkaji hasil dari marketing dalam enam bulan ke depan.

Alasannya, hasil marketing diperlukan untuk melihat berapa banyak kebutuhan proyeksi untuk melakukan produksi.

Editor: Choirul Arifin
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved