Akhir Tragis Jalur KA Bandung- Ciwidey: Rumah Lurah Pun Dibangun di Atas Rel

Jalur kereta api Bandung-Ciwidey, yang dulu dimanfaatkan untuk angkutan penumpang dan hasil bumi, kini sudah menjadi fondasi rumah

Akhir Tragis Jalur KA Bandung- Ciwidey: Rumah Lurah Pun Dibangun di Atas Rel
TRIBUN JABAR/AGUNG YULIANTO
Sejumlah warga melintasi jembatan layang bekas rel kereta Soreang-Ciwidey di atas sungai Sungapan, Soreang. 

Oleh Rhea Febriani Tritami

TRIBUNNEWS.COM - GURATAN sejarah dalam bangunan di Stasiun Ciwidey tampak nyaris hilang dan terbengkalai. Jalur kereta api Bandung-Ciwidey, yang dulu dimanfaatkan untuk angkutan penumpang dan hasil bumi, kini sudah menjadi pondasi rumah hingga tempat bercocok tanam.

Jalur KA Bandung-Ciwidey ini memang sudah berbaur dengan kehidupan masyarakat sekitar. Di Kampung Cimuncang, Kecamatan Ciwidey, terdapat satu lajur jalan setapak yang berdampingan dengan rel kereta. Berdasarkan penelusuran Tribun, lajur tersebut dioptimalkan warga sekitar untuk kebutuhan sehari-hari.

Selain menjadi pondasi rumah, rel kereta tersebut juga ada yang difungsikan sebagai jalur masuk ke pekarangan rumah. Sekitar lima meter rel kereta ini juga digunakan sebagai media untuk bercocok tanam dan dipagari. Saat bertemu sungai, jembatan yang dulunya berfungsi menyeberangkan kereta kini disulap menjadi jembatan penyeberangan orang dengan membeton jalur rel.

Di sisi lain Stasiun Ciwidey, terlihat instalasi peralatan dekat jalur kereta api yang tak terlalu diusik warga. Misalnya bandul wesel. Benda setinggi lutut yang tertanam di samping rel ini berfungsi memindahkan jalur KA, dari satu jalur ke jalur lainnya. Ada juga instalasi pemutaran lokomotif yang tampak berkarat. Instalasi ini pun difungsikan warga menjadi tempat jemuran pakaian.

Stasiun Ciwidey sendiri tampak terbengkalai. Gedung yang dulunya kantor stasiun itu kini tampak lapuk dan dindingnya menjadi korban corat-coret dengan cat. Salah satu bangunan besar yang ada di stasiun itu digunakan warga sebagai garasi kendaraan. Padahal, bangunan tersebut tampak rentan karena usia.

Melihat sejarahnya ke masa lampau, jalur KA Bandung-Ciwidey ini ada sejak 1923. Stasiun Ciwidey, yang berada di ketinggian +1106 meter, menjadi stasiun akhir untuk rute KA Bandung-Ciwidey. Namun, jalur ini merupakan jalur pertama yang menghubungkan Bandung Selatan ke pusat Kota Bandung. Jalur ini pun menjadi akses utama warga dari Ciwidey ke Kota Bandung.

Jalur Bandung-Ciwidey biasanya digunakan sebagai angkutan penumpang. Pemandangan alam yang indah di perjalanan menjadi daya tarik tersendiri. Jalur ini pun digunakan untuk angkutan barang maupun komoditi pertanian, termasuk kayu.

Pada 1972, terjadi peristiwa luar biasa, yakni kecelakaan rangkaian kereta yang mengangkut kayu. Dengan alasan tersebut, juga alasan jalur ini tidak mendatangkan keuntungan, berangsur-angsur jalur ini tidak aktif hingga penutupan resmi pada 1982.

Dengan tujuan mengklaim kembali apa yang menjadi asetnya, PT Kereta Api melakukan penelusuran kembali pada Selasa (20/5/2014). Placement Stasiun Ciwidey, yang terletak di Kampung Cimuncang, Desa Ciwidey, memiliki luas 3.600 meter persegi. Di luasan tanah ini, ada 300 kepala keluarga yang tinggal sejak puluhan tahun lamanya.

Salah satu warga sekitar, Adah Mahmudin (57), mengatakan area di sekitar Stasiun Ciwidey memang sudah menjadi permukiman warga, toko hingga garasi, dan gudang. Kantor stasiun pun menjadi gudang perabotan. "Banyak yang sudah jadi rumah. Rumah Pak Lurah juga ada, pas di atas rel kereta," ujarnya.

Ada juga Ayi Cahyana, warga RT 02 RW 08. Ia membicarakan harapan-harapannya jika warga sekitar harus pindah dari tempat tinggal mereka yang merupakan lahan aset PT KAI. Di RW 08 saja, lahan PT KAI ditempati 80 kepala keluarga.

Ayi berharap PT KAI tidak melakukan penertiban secara mendadak. Ia mengatakan, warga setidaknya butuh tiga hingga empat tahun untuk pindah. Ia mempertimbangkan nasib warga yang kesulitan mencari tempat tinggal baru dalam jangka waktu pendek.

"Kami bersedia pindah. Ini kan punya pemerintah. Tapi masyarakat diberi arahan, setelah pindah bagaimana dan ke mana. Harapan kami juga ada bantuan dari pemerintah," ujarnya.

Ayi bercerita, saat ini yang sedang menjadi perhatian warga sekitar adalah soal pembuatan perjanjian pajak bumi dan bangunan, terkait kenaikan harga PBB. "Dulu pajaknya Rp 3.000 per meter. Kabarnya mau naik Rp 6.000 per meter. Rumah saya sendiri 42 meter," kata Ayi, yang tinggal di area tersebut sejak kecil. 

Editor: Yulis Sulistyawan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved