Tribunners / Citizen Journalism

Tinju Adat Nagekeo: Kewibawaan dan Harga Diri

DI Kabupaten Nagekeo, ada salah satu seremoni adat yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan etu atau disebut mbela.

Oleh Servatinus Mammilianus

DI Kabupaten Nagekeo, ada salah satu seremoni adat yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan etu atau disebut mbela. Seremoni itu juga biasa dinamakan tinju adat. Walaupun aturan dan cara bertarungnya tidak sama dengan olahraga tinju yang sebenarnya, namun terdapat beberapa kemiripan.

Tinju adat ini, bukan soal kalah atau menang melainkan pertarungan antarlaki-laki untuk membuktikan kewibawaan dan harga diri laki-laki.

"Etu bisa dilihat sebagai salah satu olahraga tradisional yang menunjukkan kewibawaanlaki-laki. Kalau dia jago bertarung dia pasti bisa melukai lawannya dan menang. Yang menang dinilai sebagi laki-laki yang berwibawa dan hebat. Kalau dia wibawa dan hebat, harga dirinya pasti terangkat. Jadi etu merupakan ajang pembuktian kewibawaan dan harga diri laki-laki," kata tokoh masyarakat Towak, Yakobus Koru di kediamannya di Danga-Mbay, Kamis (15/7/2010).

Kesamaannya dengan olahraga tinju "modern", tinju tradisional ini pun berlangsung di arena di tengah kampung. Petinjunya juga ada dua pria. Keduanya saling meninju. Hanya petinju etu tidak menggunakan sarung tangan. Hanya salah satu tangan petarung dililit sabut kelapa yang disebut  kpo atau wholet. Alat ini digunakan sebagai senjata untuk melumpuhkan lawan, bahkan sampai berdarah.

Tidak ada ketentuan pasti dalam aturan ronde. Etu langsung saja dihentikan bila salah satu petarung jatuh atau mengeluarkan darah. Pada umumnya tinju adat ini berlangsung antara dua sampai lima menit, tergantung kekuatan masing-masing petarung.

"Etu merupakan satu kesatuan dari serangkaian acara adat yang dilakukan warga sejak mulai dari menanam sampai panenhasil di kebun," kata Rufus Goa, tokoh masyarakat Rendu di sela-sela acara etu di Rendu, Minggu (4/7/2010).

Etu dipimpin wasit, atau seka, dalam istilah setempat. Ada dua sampai tiga orang seka. Selain wasit, ada petugas yang disebut sike yaitu yang bertugas untuk mengendalikan para petarung agar tidak membabibuta menyerang dan melukai lawannya. Sike  bisa dengan mudah melaksanakan tugasnya karena memegang ujung bagian belakang sarung yang dikenakan petarung. Jadi begitu petarunnya macam-macam, sike hanya menarik saja ujung kain menjauhkan petarung.

Ada juga petugas lain yang disebut pai etu atau bobo etu. Petugas ini bertugas untuk mencari petarung berikutnya yang ada di sekitar arena pertarungan. Atau siapa yang berniat bertinju, dia langsung lapor saja ke pai etu yang akan mengatur jadwal pertandingannya. Petugas ini bisa terdiri dari dua orang atau lebih. Ada juga yang dinamakan mandor adat, tugasnya adalah mengawasi penonton yang berada di luar arena agar tidak masuk ke dalam arena. Mandor adat ini terdiri dari dua sampai empat orang.

Faris Tiba Goa, tokoh muda Rendu menjelaskan, masih banyak acara adat lainnya yang dilakukan warga sebelum etu dilakukan. "Sebelum acara etu, masih ada acara adat lainnya yang kami lakukan. Etu itu bermaksud untuk menunjukan kewibawaan dan kekuatan seorang laki-laki. Kalau dulu nenek moyang bisa menunjukkan kekuatannya saat perang, setelah itu mereka wariskan pembuktian kewibawaan dan harga diri seorang laki-laki melaui etu," kata Faris.

Kaum perempuan termasuk para ibu-ibu, juga turut ambil bagian dalam etu. Tapi tidak sebagai petarung. Mereka biasanya terlibat pada acara yang dinamakan dio yakni nyanyian untuk memberikan semangat kepada para petarung.

Di daerah Tutu Badha-Rendu di Kecamatan Aesesa Selatan, tinju adat itu diawali oleh pertarungan antara dua orang saudara kandung dari salah satu keluarga di kampung itu. Setelah itu baru diikuti oleh peserta lainnya.

Namun pada umumnya, tinju adat pada hari pertama biasanya dinamakan etu coo atau mbela loe yakni tinju yang pesertanya terdiri dari anak-anak. Sedangkan pada hari kedua dinamakan etu meze atau mbela mese yaitu diikuti oleh peserta orang dewasa dari berbagai daerah.

Tinju di hari kedua ini diidentikkan dengan etu atau mbela yang sebenarnya. Petarungnya pun merupakan utusan dari daerah-daerah tertentu. "Kekuatan seorang laki-laki, bisa dilihat saat etu berlangsung. Yang lebih kuat pasti dia yang menang. Yang menang dinilai punya kewibawaan lebih," tutur Arnoldus Kea, yang ditemui di Mbay, Rabu (7/7/2010) lalu.

Walaupun memiliki makna yang sama, ada beberapa istilah dan kemasan acara yang berbeda antara satu suku dengan suku lainnya di Nagekeo dalam menyelengarakan tinju adat atau etu ini. (bersambung)

Editor: Tjatur Wisanggeni
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved