Selasa, 14 April 2026

Asian Para Games 2018

Sapto Yogo Tak Pernah Bermimpi Jadi Pelari

Atlet para atletik Indonesia, Sapto Yogo Purnomo tak pernah bermimpi menjadi atlet lari.

Penulis: Abdul Majid
TRIBUNNEWS.COM
Atlet para atletik Indonesia, Sapto Yogo Purnomo tak pernah bermimpi dirinya bisa menjadi atlet lari. Kini namanya tercatat sebagai manusia tercepat se-Asia di nomor 100 meter. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Majid

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Atlet para atletik Indonesia, Sapto Yogo Purnomo tak pernah bermimpi menjadi atlet lari.

Sapto tercatat sebagai manusia tercepat se-Asia di nomor 100 meter.

Catatan itu ia torehkan setelah finis pertama di nomor 100 meter kelas T37 (tunadaksa) yang digelar di Stadion Utam Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (9/10/2018).

Baca: Dimas Anggara Mengaku Tertantang Memerani Pria Autis di Film Dancing In The Rain

Finish dengan catatan waktu 10.49 detik, mengantarkan Sapto menggeser atlet China, Liang Yongbin, sang pemegang rekor catatan waktu yang ditorehkannya di Paralimpiade London 2012, 10.51 detik.

Baca: TERPOPULER: Jelang Satu Tahun Kepemimpinan Anies Baswedan, Ramai Tagar #AniesTakIngkarJanji

Sehari sebelum meraih medali emas di nomor 100 meter, pemuda asal Purwokerto itu juga telah menyabet medali emas pada nomor 200 meter kelas T37.

Namun, prestasi yang kini diraih Sapto bukanlah hal yang instan. Sapto pun sempat bercerita bagimana dirinya yang sempat tak mempunyai mimpi lantaran kondisi fisiknya yang berbeda dengan rekan-rekannya.

Baca: McDonalds Australia Dituduh Lakukan Diskriminasi Terhadap Pekerja Lebih Tua

“Sebelumnya malah saya tidak ada cita-cita, cuma pas SMK itu yang penting lulus saja, soalnya kondisi saya kan tidak senormal yang lain,” kata Sapto meraih medali emas di nomor 200 meter.

Tiga tahun silam, saat itu usia Sapto masih 17 tahun. Ia yang mempunyai ketidaksempurnaan pada bagian tangan kanannya diarahkan oleh guru olahraganya untuk mencoba olahraga atletik, menjadi sprinter dan lompat jauh.

Dari situ, Sapto mulai menggelutinya dengan fokus. Hingga akhirnya ia tahun bahwa masa depan dan mimpinya ada di cabang olahraga atletik.

“Kejuaraan pertama itu saya ikut Peparpenas (Pekan Paralympic Pelajar Nasiona) 2015 di Bandung, saya dapat dapat dua emas,” ujarnya.

Prestasi yang diraih Sapto ketika masih pelajar terus bertahan. Bahkan, satu tahun kemudian, Sapto berhasil memborong lima medali emas saat mengikuti Pekan Paralimpiade Nasional XV 2016 di Bandung.

Dukungan Orang Tua

Bagi Sapto seluruh torehan prestasi yang ia dapatkan tidak akan berarti tanpa perjuangan dan dukungan dari orang sekitar terutama kedua orang tuanya.

Sapto mengaku sangat dekat dengan orang tuanya. Mereka lah yang merima keadaan Sapto secara tulus dan orang yang terus memberikan dukungan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved