Separuh Dari Pelaku Perdagangan Manusia di Australia Adalah Perempuan
Menurut penelitian terbaru, sekitar setengah dari pelaku perdagangan manusia yang dihukum dalam beberapa tahun terakhir di Australia…
"Begitu mereka membayar hutang mereka, mereka kemudian bertahan di industri seks, menjadi germo dan membawa perempuan lain untuk kemudian dieksploitasi seperti mereka."
Jumlah korban perempuan tinggi
Baxter mengatakan ia menemukan bahwa hakim sering mengabaikan latar belakang perempuan, atau melihatnya sebagai alasan bagi mereka untuk lebih tahu.
Ia mengatakan hakim sering mengatakan hal-hal seperti pelaku "seharusnya tahu" perilaku mereka salah, mengingat mereka pernah mengalaminya sendiri.
"Sangat sederhana untuk mengatakan \'anda seharusnya tahu lebih baik\' dan \'anda harus memilih kehidupan yang jauh dari itu\', tetapi seberapa realistis mereka bisa melakukan itu?," kata Baxter.
"Dalam situasi apapun yang menyinggung, latar belakang pelanggar atau pelaku akan sering menjadi alasan yang baik mengapa pelanggaran itu terjadi, ini diterapkan dalam penyalahgunaan narkoba, pelecehan seksual dan kasus-kasus intimidasi."
Penelitiannya berpendapat bahwa prinsip-prinsip tersebut juga harus berlaku untuk latar belakang pelaku perdagangan manusia, yang seringkali memiliki kesempatan terbatas untuk meninggalkan dunia itu begitu hutang kepada para penangkapnya terbayar.
"Dari mana mereka bebas?," kata Baxter.
"Ya, mereka tidak lagi memiliki hutang. Gaya hidup itu dan kondisi-kondisi itu dan pekerjaan itulah yang mereka tahu."
"Mereka masih memiliki keterampilan bahasa Inggris yang terbatas dan keterampilan perdagangan yang terbatas."
Menurut Badan Narkoba dan Kejahatan PBB (UNODC), "hampir setiap" negara di dunia terkena dampak perdagangan manusia dengan ribuan pria, perempuan dan anak-anak menjadi korban.
Associate Professor Flinders University dalam bidang Kriminologi, Marinella Marmo, mengatakan analisis studi kasus di Australia ini akan berdampak signifikan.
"Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menunjukkan minat untuk membuat profil tak hanya korban yang diperdagangkan tetapi juga pelanggar hukum," kata Dr Marmo.
"Statistik menunjukkan bahwa hampir 3 dari 10 pelaku perdagangan manusia adalah perempuan."
"Studi Baxter menunjukkan bahwa [sebuah] pendekatan pencegahan sosial yang lebih inklusif mungkin diperlukan untuk meminimalkan siklus korban-pelaku di bidang perdagangan manusia."