Senin, 20 April 2026
ABC World

'Tidak Bisa Diburu-buru': Tahap Akhir Vaksin Inggris Terpaksa Ditangguhkan

Tahap akhir uji coba untuk vaksin virus corona di Inggris ditangguhkan setelah seorang peserta yang mengikuti penelitan berpotensi…

Tahap akhir uji coba untuk vaksin virus corona di Inggris ditangguhkan setelah seorang peserta yang mengikuti penelitan berpotensi menderita "penyakit yang tidak dapat dijelaskan".

KP Vaksin Oxford

  • Australia sebelumnya sudah membuat perjanjian dengan perusahaan AstraZeneca untuk pasokan vaksin
  • Perusahaan tersebut mengatakan uji coba dilakukan agar bisa ditinjau oleh komite independen
  • Pihak otoritas kesehatan Australia mengatakan penangguhan ini tidak berarti pilihan vaksin dari Inggris ditinggalkan

Perusahaan farmasi AstraZeneca telah menunda uji coba fase tiga dari vaksin yang sedang dikembangkan bekerja sama dengan Universitas Oxford.

Pemerintah Federal Australia bulan lalu menandatangani perjanjian dengan perusahaan yang berbasis di Inggris itu untuk mengamankan pasokan potensi vaksin COVID-19, jika uji coba terbukti berhasil.

Dalam sebuah pernyataan, AstraZeneca mengatakan, pihaknya "secara sukarela menghentikan" uji coba klinis fase 3 untuk memungkinkan komite independen meninjau apa yang terjadi pada salah satu peserta uji coba.

"[Penghentian] ini adalah tindakan rutin yang harus dilakukan setiap kali terjadi penyakit yang berpotensi tidak dapat dijelaskan di salah satu tahap uji coba, untuk memastikan kami menjaga integritas proses uji coba," demikian bunyi pernyataan tersebut.

"Dalam uji coba berskala besar, penyakit akan mungkin timbul, tetapi itu harus ditinjau secara independen supaya bisa diperiksa dengan cermat."

Pemerintah Australia telah mengamankan 33,8 juta dosis vaksin Oxford untuk kemudian diproduksi di dalam negeri.

Selain itu, 51 juta dosis vaksin potensial yang sedang dikembangkan oleh University of Queensland dan CSL juga telah dipesan Pemerintah Australia.

Rencananya, sebanyak total 84 juta dosis vaksin yang potensial ini akan diluncurkan gratis secara bertahap sepanjang tahun depan, di antaranya 3,8 juta dosis vaksin Oxford yang menurut pemerintah akan diluncurkan pada awal Januari, sambil menunggu uji coba yang berhasil.

Namun, para ahli vaksin pada hari Senin (07/09) memperingatkan jangka waktu yang ditetapkan Pemerintah Federal terlalu "ambisius" dan "optimis", mengingat sebagian besar uji coba fase tiga membutuhkan waktu setidaknya satu tahun untuk menyelesaikannya.

Dalam pernyataannya, Menteri Kesehatan Federal Greg Hunt mengatakan penangguhan ini menunjukkan kerasnya proses uji coba dan perusahaan sedang bekerja untuk mempercepat peninjauannya.

Greg Hunt juga mengatakan, Australia sedang mengejar "strategi vaksin COVID-19 yang lebih terdiversifikasi", seperti uji coba vaksin yang dikembangkan University of Queensland, serta pembicaraan pemerintah dengan produsen vaksin lain yang menjanjikan.

An employee wears a mask, goggles and hairnet at the Brazilian trials for the potential coronavirus vaccine developed by Oxford.

Reuters: Amanda Perobelli: Seorang karyawan terlihat di Pusat Referensi untuk Imunobiologi Khusus (CRIE) dari Universitas Federal Sao Paulo (Unifesp) tempat uji coba vaksin virus corona Oxford/AstraZeneca dilakukan, di Sao Paulo, Brasil, 24 Juni 2020. Gambar diambil 24 Juni 2020.

50.000 orang berpartisipasi dalam uji coba Oxford

Vaksin yang dikembangkan Oxford telah menghasilkan respon kekebalan tubuh dalam percobaan pada manusia tahap pertama, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu kandidat terdepan dalam perlombaan untuk memerangi virus yang telah menyebabkan ratusan ribu kematian dan melumpuhkan ekonomi global.

Akhir bulan lalu, AstraZeneca mulai merekrut 30.000 orang di Amerika Serikat untuk studi vaksin terbesarnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved