Rabu, 13 Mei 2026
ABC World

Sudah Dua Kali Jokowi Diminta Menegur Negara Pengirim Limbah B3 ke Indonesia

Pegiat lingkungan untuk kedua kalinya mendesak Presiden Indonesia Joko Widodo menggunakan jalur diplomatik untuk menegur sejumlah…

Tayang:

Seperti terungkap pada peti kemas asal Brisbane Australia yang dibongkar petugas pabean di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Selasa (9/7/2019).

Meski di dokumennya tertulis kontainer itu berisi kertas bekas namun setelah diperiksa ternyata turut mengandung limbah botol plastik, kemasan oli bekas, popok bekas, alas kaki bekas dan barang elektronik bekas.

Ecoton mencatat limbah non-kertas pada peti kemas yang diklaim sebagai sampah kertas itu tidak tanggung-tanggung - bisa mencapai 40 persen.

Praktek ini terkonfirmasi dengan temuan selisih data ekspor impor sampah yang dikumpulkan oleh Bali Fokus yang juga anggota dari Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI).

Selama 2014-2018, Bali Fokus mencatat jumlah sampah impor yang dilaporkan negara eksportir selalu lebih tinggi ketimbang angka yang dilaporkan perusahaan importir.

Pada 2014, angkanya mencapai 145.593 ton dari catatan pengekspor. Sementara data sampah impor: 107.423 ton.

Perbedaan yang lebih mencolok terjadi tahun lalu. Negara eksportir mencatat 402.913 ton sampah diekspor ke Indonesia; sebaliknya, sampah yang tercatat masuk hanya 320.452 ton.

Menurun pasca re-ekspor

Menyusul ramainya sorotan media terhadap isu sampah impor, pemerintah melalui instansi terkait tampaknya mulai meningkatkan pengawasan di pelabuhan dan melakukan re-ekspor atau mengirim balik kontainer yang ketahuan bercampur dengan limbah non-kertas.

Pada pertengah Juni lalu misalnya, otoritas Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya melakukan re-ekspor lima kontiner asal AS.

Kepala Kantor Bea Cukai Tanjung Perak Basuki Suryanto mengatakan pihaknya juga akan memulangkan 8 kontainer limbah asal Australia dan puluhan kontainer dari negara lain.

"Re-ekspor masih dalam proses. Ada yang 38 kontainer dari AS dalam proses, dari Jerman 20 kontainer juga dalam proses. Inggris ada, tapi tidak dalam penanganan seperti ini," paparnya.

Basuki mengatakan aksi re-ekspor ini efektif dalam menekaan jumlh jumlah impor limbah kertas yang masuk dari ketiga negara tersebut.

Menurutnya, berdasarkan data Sucofindo, di seluruh indonesia setiap bulan ada 10 ribu sampai 12 ribu kontainer.

"Tapi di bulan Juni ini tinggal 600-700 kontainer impor waste paper," jelasnya.

Ikuti berita-berita menarik lainnya dari situs ABC Indonesia di sini.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved