Minggu, 19 April 2026
ABC World

Indonesia Alami 185 Bencana di Awal 2021, Jadi Peringatan Soal Kerusakan Alam

1,3 juta warga Indonesia telah menderita dan mengungsi akibat serangkaian bencana di awal tahun. Pemerhati lingkungan mengatakan bencana…

Baca laporannya dalam versi bahasa Inggris.

Data resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah mencatat ada 185 bencana di Indonesia hingga hari Kamis kemarin (21/01).

Dari jumlah tersebut kebanyakan adalah bencana banjir, yakni 127 kejadian, diikuti dengan 30 bencana longsor.

Serangkaian bencana di awal tahun 2021 menyebabkan 166 orang meninggal dunia, lebih dari 1.200 mengalami luka-luka dan mereka yang "menderita dan mengungsi" mencapai lebih dari 1,3 juta orang.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada Januari 2020, BNPB mencatat ada 297 bencana saat itu, termasuk banjir di kawasan Jakarta dan sekitarnya, serta longsor di sejumlah daerah lain.

Bencana awal tahun ini lebih banyak merengut nyawa dibandingkan sejumlah bencana di Januari 2020 yang menewaskan 91 orang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan adanya "multi risiko" bencana yang akan meningkat hingga Maret mendatang.

BMKG mengatakan faktor cuaca dan iklim, termasuk puncak musim hujan, akan memasuki puncaknya di bulan Januari dan Februari.

"Sampai Maret masih ada potensi multirisiko, tapi untuk hidrometeorologi puncaknya pada Januari-Februari ... potensi kegempaan juga meningkat, mohon kewaspadaan masyarakat," kata kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers online pekan lalu.

A woman leaning to a pillar and smiling.

Istimewa: Muhammad Ridwan Alimuddin: Kepala BMKG, Dwikorta Karnawati, telah memperingatkan masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan soal risiko bencana.

Sebagai dampak kesimpangsiuran informasi, Ridwan menyebut saat itu bantuan belum ada sampai di titik pengungsi di Malunda, Ulu Manda, dan Tubo Sendana, yang berada dekat dengan titik gempa.

"Keterlambatan pemerintah itu kelihatan efeknya, banyak pengungsi yang memasang papan penghalang di jalan untuk minta sumbangan," ujar Ridwan kepada Farid M.Ibrahim.

"Kadang mereka kesal kalau tidak diberi bantuan. Belakangan ada yang rebutan saat ada mobil bantuan berhenti. Ini yang kemudian dinarasikan sebagai penjarahan," tutur Ridwan.

Ridwan berharap bencana kali ini bisa menyadarkan orang mengenai pentingnya mitigasi bencana, termasuk kualitas pembangunan rumah warga dan perkantoran, karena Sulawesi Barat merupakan daerah rawan gempa.

"Kearifan lokal menggunakan rumah panggung sudah mulai ditinggalkan, padahal rumah panggung terbukti ampuh menghadapi gempa," menurutnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved