Pendukung Suu Kyi Melakukan Aksi Protes 'Mengusir Setan' Kudeta Militer Myanmar
Puluhan orang di kota terbesar di Myanmar membunyikan klakson mobil dan memukul panci serta wajan sebagai bentuk perlawanan publik…
Puluhan orang di kota terbesar di Myanmar membunyikan klakson mobil dan memukul panci serta wajan sebagai bentuk perlawanan publik pertama terhadap kudeta yang dipimpin militer negara itu sehari sebelumnya.
Bentuk penentangan yang pada awalnya hanya akan berlangsung selama beberapa menit akhirnya berlangsung lebih dari 15 menit di beberapa perkampungan di kota Yangon, bekas ibukota Myanmar.
Juga muncul teriakan yang mendoakan agar pemimpin NLD Aung San Suu Kyi dalam keadaan sehat, serta seruan untuk pembebasannya.
Aung San Suu Kyi ditahan hari Senin bersama beberapa anggota senior partainya di saat militer mengambil kekuasaan.
"Membunyikan genderang dalam budaya Myanmar adalah seperti kami mengusir setan," kata seorang warga yang tidak mau disebut namnya karena takut jadi sasaran penangkapan.
Sebelumnya beberapa kelompok pro-demokrasi menyerukan kepada warga untuk membuat bunyi-bunyian pukul 8 malam hari Selasa guna menunjukkan penentangan terhadap kudeta tersebut.
Kudeta terjadi di saat para anggota parlemen yang baru berkumpul di ibukota Naypyidaw untuk mengikuti pembukaan sidang parlemen hasil pemilu bulan November lalu.
Militer mengatakan penangkapan dilakukan karena pemerintah tidak mengambil tindakan terhadap tuduhan militer, yang tidak disertai bukti-bukti, bahwa terjadi kecurangan pada pemilu di bulan November kecurangan.
Dalam pemilu itu partai NLD menang mutlak.
Militer Myanmar mengatakan pengambilalihan kekuasaan tersebut sah menurut konstitusi negara.
Para dokter menentang kediktatoran
Kudeta ini adalah ujian bagi masyarakat internasional sekaligus memperlihatkan bahwa sebenarnya yang masih berkuasa di Myanmar adalah para jenderal, meskipun selama 10 tahun terakhir sudah ada pembicaraan mengenai reformasi yang demokratis.
Sebelumnya negara-negara Barat telah menyambut baik perjalanan ke arah demokrasi dengan mencabut sanksi yang sudah diterapkan sebelumnya.
Sekarang Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyebut tindakan militer itu sebagai \'serangan langsung terhadap transisi demokrasi dan penegakan hukum\' dan mengancam akan menerapkan sanksi baru.