Dirut Berau Coal Kaget Atas Pernyataan BUMI
Dirut PT Berau Coal, Rosan P Roeslani, menyatakan tidak pernah dihubung direksi Bumi Plc terkait dengan pemberitaan investigasi dari BUMI.
Laporan Wartawan Tribun Jakarta, Arif Wicaksono
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rosan P Roeslani, Dirut PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), menyatakan tidak pernah dihubung direksi Bumi Plc terkait dengan pemberitaan investigasi yang dilakukan induk usaha BRAU itu.
"Saya tidak pernah dihubungi terkait dengan investigasi yang akan dilakukan induk usaha kami," ujarnya di Graha CIMB Niaga, Jakarta (02/10/2012).
Ia juga mengaku kaget sebab Bumi Plc selalu menilai kinerjanya bagus. Dengan audit yang selalu menunjukan kinerja yang baik.
"Saya kaget sebab kinerja BRAU sudah diaudit selama dua tahun oleh PWC, JP Morgan dan Credit Suizes," jelasnya.
Ia juga tengah menanyakan maksud Bumi Plc memuat surat tersebut di harian internasional.
"Belum ada penyelidikan dan Bumi Plc maka kami menanyakan maksudnya agar tidak menjadi chaos dan kami mempunyai informasi secara terbuka dan transparan terhadap pemegang saham kami. Sampai sekarang juga tidak ada penyelidikan atas Bumi Plc," ujarnya.
Seperti diketahui, surat tersebut menyebutkan kejanggalan atas kinerja perusahaan batubaranya di Indonesia. Bumi Plc langsung memberi pernyataan kepada publik untuk melangsungkan audit investigasi. Sontak saja, saham Bumi Plc dan BUMI langsung melorot pada awal pekan.
Sebagai tambahan, rapor Bumi Plc, induk usaha PT Bumi Resources Tbk dan PT Berau Coal Energy Tbk, masih merah di semester I-2012.
Di periode tersebut, perusahaan yang mencatatkan sahamnya di Bursa London ini menderita kerugian yang diatribusikan ke pemilik entitas induk senilai 117 juta dollar AS. Jumlah ini menyusut 62 persen daripada kerugian di semester I-2011 senilai 308 juta dollar AS.
Kendati menderita kerugian, Bumi Plc mencatatkan pertumbuhan laba operasional setinggi 106,45 persen year-on-year (yoy) menjadi 128 juta dollar AS pada semester I-2012.
Beberapa waktu lalu, Chief Executive Officer Bumi Plc, Nalin Rathod, mengungkapkan kinerja keuangan Bumi Plc dipengaruhi kerugian di tingkat anak usaha. Terutama karena pembayaran bunga yang cukup tinggi dan kerugian turunan dari Bumi Resources.
"Selain itu, harga batubara termal juga menurun secara signifikan selama beberapa bulan terakhir, bersama dengan harga logam mineral lainnya. Ini mencerminkan tantangan perekonomian global," kata Nalin, dalam laporan keuangan Bumi Plc yang dirilis Kamis (9/8) lalu.
Bumi Plc melaporkan, selama semester pertama tahun ini, Bumi Resources menderita kerugian setelah pajak mencapai 111 juta dollar AS. Padahal di semester I-2011, Bumi Resources masih mencatatkan keuntungan setelah pajak senilai 41 juta dollar AS.
Manajemen Bumi Resources juga berupaya memangkas tumpukan utang, salah satu caranya dengan mencairkan investasi dan aset-aset non-inti.
Emiten berkode BUMI ini memang berniat mempercepat pembayaran utang kepada China Investment Corp (CIC) senilai 600 juta dollar AS pada Oktober 2012.
Kenaikan kinerja operasional Bumi Plc berasal dari pertumbuhan penjualan Berau Coal Energy dan Bumi Resources. Selama paruh pertama tahun ini, Berau Coal dan Bumi Resources mencatatkan kenaikan volume penjualan batubara masing-masing 6,67 persen dan 9,36 persen menjadi 9,8 juta ton dan 32,7 juta ton.
Tapi di periode yang sama, rata-rata harga jual batubara Bumi Resources menurun 3,61 persen yoy menjadi US$ 88 per ton. Sedangkan rata-rata penjualan batubara Berau Coal meningkat 2,68 persen yoy menjadi US$ 76,6 per ton.
BUMI memproyeksikan produksi batubara sepanjang tahun ini mencapai 75 juta ton, atau meningkat 13,64 persen daripada produksi 2011 yang sebanyak 66 juta ton. Adapun Berau Coal Energy (BRAU) menargetkan pertumbuhan produksi 0 persen -10 persen menjadi 20 juta-22 juta ton selama 2012. (*)
BACA JUGA: