Industri Mulai Keluhkan Lonjakan Biaya Akibat Pelemahan Rupiah
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai menekan sektor industri nasional yang bergantung pada bahan baku impor.
Ringkasan Berita:
- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai menekan sektor industri nasional yang bergantung pada bahan baku impor.
- Pelemahan rupiah berdampak pada harga bahan baku impor yang memicu naiknya biaya produksi industri.
- Perusahaan akan kesulitan menjaga daya saing jika memutuskan menaikkan harga jual lebih dulu sementara kompetitor bertahan dengan harga lama.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai menekan sektor industri nasional, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan biaya produksi di tengah ketatnya persaingan harga di pasar domestik.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakui sudah menerima keluhan dari pelaku industri terkait dampak kenaikan biaya akibat fluktuasi kurs.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, keluhan dari industri memang mulai bermunculan seiring tekanan biaya yang meningkat akibat pelemahan rupiah.
"Adalah pasti (keluhan), cuma kan ya kita masih lihat bagaimana fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar gitu," tutur Febri kepada Wartawan di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Pelemahan rupiah berdampak pada harga bahan baku impor yang memicu naiknya biaya produksi industri.
Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi dilema dalam menentukan harga jual produk karena harus mempertimbangkan daya saing dengan kompetitor di pasar.
"Keluhan seperti apa, ya pasti mengeluh semuanya harga ini naik, nilai tukar naik, pasti bahan baku juga naik dan itu juga akan menambah biaya produksi. Ya sementara industri juga harus mempertimbangkan antara biaya produksi dengan harga produk yang mereka jual, karena production cost dengan pricing itu kan dua hal yang berbeda begitu," jelasnya.
Febri menambahkan, kenaikan biaya produksi belum tentu langsung diikuti kenaikan harga jual produk di pasar. Sebab, perusahaan masih mempertimbangkan kondisi persaingan dengan industri lain yang memproduksi barang serupa.
Baca juga: Pelemahan Rupiah Untungkan Ekspor Komoditas Tambang dan Perkebunan
Menurut dia, perusahaan akan kesulitan menjaga daya saing jika memutuskan menaikkan harga jual lebih dulu sementara kompetitor bertahan dengan harga lama.
"Itu (kenaikan) tergantung industri, kalau ketika menetapkan pricing industri lihat juga persaingan biaya di antara sesama industri yang memproduksi barang yang sama. Katakan pesaingnya tidak menaikkan harga, dia menaikkan harga kan juga susah dia kan bersaing," ucap Febri.
Terkait sektor industri yang telah menyampaikan keluhan secara langsung kepada Kemenperin, Febri belum bersedia mengungkapkan secara rinci.
Baca juga: Rupiah Kembali Ambruk, Terjun ke Level Rp 17.796 per Dolar AS, Isu PHK Makin Menghawatirkan
Dia memastikan sektor yang terdampak merupakan industri yang masih mengandalkan bahan baku impor untuk kegiatan produksinya.
"Belum, kami belum bisa menyampaikan sektor mana saja, tapi yang jelas industri yang mengimpor bahan baku," terang Jubir Kemenperin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pabrik-DFSK-Kawasan-Industri-Cikande.jpg)