Toko Elizabeth: 'Dulu Produksi 20 Tas, Kini 30.000 Per Bulan'
PADA 1960-an, Handoko Subali merupakan seorang pekerja pada industri tas.
TRIBUNNEWS.COM -- PADA 1960-an, Handoko Subali merupakan seorang pekerja pada industri tas. Sementara istrinya, Elizabeth adalah ibu rumah tangga. Dalam kehidupan yang serba pas-pasan itu, kedua pasangan tersebut harus membesarkan anak-anaknya sekaligus memenuhi kebutuhan hidup dengan penghasilan Handoko yang pas-pasan.
Handoko pun memutuskan untuk memulai usahanya membuat tas sendiri pada 1962, didasari keinginan dan mimpi yang kuat untuk berubah. Bermodalkan pinjaman senilai 5 kilogram batu api ditambah sedikit tabungan, seorang penjahit, dan sedikit pengetahuan memproduksi tas, Handoko pun mulai membuat tas. "Saat itu, yang dibuat adalah tas travel," kata Direktur Tas Elizabeth, Lisa Subali membuka cerita tentang kedua orang tuanya, saat memperingati HUT ke-50 Tas Elizabeth di Cihampelas Walk, Minggu (21/4/2013) malam
Lisa mengatakan, sang ayah, yang bermodalkan sepeda ontel, mulai memasarkan produksi tas merek Elizabeth (nama istirnya), ke berbagai tempat secara door to door, termasuk menitipkan produknya pada toko. Tas pertama yang diproduksi adalah tas travel.
Ternyata, upaya dan kerja keras, ditambah dukungan sang istri serta kekuatan doa, produk tas travel tersebut mulai diminati publik. Secara perlahan, Handoko mulai kebanjiran pesanan. Sadar usahanya berprospek, Handoko memutuskan untuk mengembangkannya.
Pada 1963, secara resmi, Handoko mendirikan Tas Elizabeth. Banyaknya pemesanan, membuat Handoko menambah tenaga kerjanya, menjadi dua orang penjahit. "Pesanan makin banyak, otomatis, membuat produksi bertambah. Saat itu, menjadi 20 unit per bulannya," timpal Denny Subali, Direktur Utama Tas Elizabeth, yang tidak lain putra Handoko dan Elizabeth.
Menjelang dekade 1970-an, bisnis tas Handoko dan Elizabeth terus berkembang. Tas bermerek Elizabeth pun kian dikenal publik, selain karena modelnya, juga kualitasnya. Akhirnya, Handoko dan Elizabeth membuka toko Elizabeth untuk pertama kalinya di Jalan Oto Iskandardinata, yang kini menjadi kantor pusat Tas Elizabeth.
Denny mengatakan, perusahaan berbasis bisnis keluarga tersebut kini mempekerjakan ribuan karyawan. "Kami terus bekerja keras untuk berubah, yang semula industri sangat kecil, kini industri besar yang terus berusaha profesional. Yang semua pemasarannya berkeliling menggunakan sepeda ontel, kini mengandalkan 40 gerai di berbagai daerah. Dulu, yang produksinya hanya 20 tas per bulan, kini 30 ribu per bulan," jelasnya.
Pada 1990-an sampai awal 2000, Elizabeth sempat menembus pasar internasional. Beberapa negara Asia, seperti Jepang, dan Eropa, bahkan Amerika Serikat . Akan tetapi, kini Elizabeth fokus pada pasar dalam negeri meskipun pada era globalisasi ini peluang ekspor terbuka lebar. "Potensi pasar Indonesia sangat besar.Itu yang kami manfaatkan," kata Denny.
Kuatnya fokus pasar domestik itu, ditunjukkan oleh rencana perluasan gerai di seluruh nusantara. Tahun ini, Elizabeth siap menambah lima cabang yaitu di Cicadas (Bandung), Pekanbaru, Lampung, Cirebon, dan Lombok. "Sebelum 2020, kami ingin memiliki 100 gerai," tegas Denny. (win)