Minimal Penghasilan Rp 200 Ribu Per Hari dari Kerja Sebagai SPG
Dalam perekrutannya, menjadi SPG harus memiliki penampilan menarik, cantik, muda, dan punya kemampuan untuk berkomunikasi
TRIBUNNEWS.COM —Untuk menyediakan sales promotion girl (SPG) bagi perusahaan-perusahaan yang sedang melakukan promosi produknya, sebuah perusahaan tidak perlu merekrut para SPG sebagai karyawan tetap. Cara itu diterapkan antara lain oleh perusahaan agen SPG, Sinar Media Sinergi, yang berlokasi di Jalan PHH Mustapha, Kota Bandung.
"Di perusahaan kami yang menjadi karyawan tetap itu cukup team leader-nya. Para SPG-nya, karena mereka juga punya kesibukan lain seperti kuliah, cukup kontrak saja sesuai dengan job yang dikerjasamakan dengan pihak perusahaan yang akan promosi produk," ujar Mega Dirgantara dari Sinar Media Sinergi kepada Tribun, Minggu (8/9/2013).
Biasanya, kata Mega, kontraknya pun beragam. Bisa tiga hari, seminggu, atau sebulan tapi waktu kerjanya bisa hanya dua minggu atau hanya setiap akhir pekan. Karena itu, penghasilan yang diperoleh setiap SPG beragam.
Jika produk yang mereka tawarkan tidak membutuhkan keterampilan khusus seperti komputer, smartphone, perbankan, dan lain-lain, honornya pun tidak begitu tinggi, yakni sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu per hari atau kerja selama delapan jam. Biasanya itu sudah kontrak untuk selama tiga hari. Belum lagi ada perusahaan yang menetapkan bonus apabila penjualan produknya mencapai target.
Dalam perekrutannya, kata Mega, menjadi SPG harus memiliki penampilan menarik, cantik, muda, dan punya kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik. Namun saat ini tidak sulit untuk mencari tenaga SPG, apalagi jika perusahaan agensinya memiliki team leader yang "gaul", banyak kenalan. Biasanya cukup menyebarkan pamflet ke kampus-kampus, bahkan saat ini cukup di-broadcasting lewat smartphone saja sudah bisa.
"Biasanya yang berminat langsung menyambutnya. Kecuali kalau sedang musimnya promosi. Seperti menjelang tahun baru dan Lebaran, biasanya para SPG itu akan memilih, mana yang lebih pas baik dari segi honor maupun dari waktu kerjanya siang atau malam," kata Mega.
Wahana Agency, salah satu agensi penyalur SPG, pun hanya memasang formulir di situs sebagai media untuk merekrut talent, tidak perlu sampai memasang iklan lowongan. Informasi pun lebih banyak bersifat mulut ke mulut. "Biasanya di antara mereka (talent) yang sudah tahu saya saja.
Temen-temennya nge-add pin BB saya, saling invite. Tahu-tahu, sudah ada yang melamar. Ya sudah, saya minta kirimkan data dan foto," ujar pemilik Wahana Agency, Inderawan Adi Cahyono (39).
Soal honor SPG, kata dia, dinegosiasikan baik dengan klien maupun dengan SPG. Misalnya disepakati klien menyanggupi Rp 700 ribu per hari, berapa yang diambil agensi dan berapa untuk SPG, dilakukan melalui negosiasi juga. Wahana Agency tidak langsung menentukan sepihak, berapa untuk SPG dan berapa untuk agensi. Biasanya Cahyo mengambil fee sekitar 20-30 persen.
Honor SPG paling rendah adalah Rp 200 ribu per hari dan paling tinggi saat ini Rp 1.000.000 per hari. Makin banyak SPG yang dikerahkan untuk satu event, Cahyo cenderung mengambil persentase yang lebih kecil.
"Saya menciptakan kondisi sefair mungkin dengan mereka. Mereka bukan tenaga terikat dengan saya. Kalau saya bikin mereka nggak nyaman, bisa jadi saat ada pekerjaan, mereka nggak mau datang. Nanti saya yang kena getah dari klien. Selama ini saya bikin pemahaman bahwa saya setara dengan mereka. Malahan saya yang butuh mereka. Dengan adanya mereka, saya bisa menjawab permintaan klien," ujar Cahyo.
Sandi Marvell, GM PT Disa Ariesanti, salah satu agensi SPG di Bandung, juga menyebutkan sistem kerja SPG itu kontrak per job, bukan tetap. "Rata-rata SPG dibayar Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu per 6-8 jam," kata Sandi, Jumat (6/9/2013).
Menurut Sandi, agensi miliknya memiliki sekitar 300 orang SPG di database. Sementara yang mendaftar mencapai 1.500 orang. Dengan persaingan yang cukup ketat ini, ia pun tak bisa sembarangan memilih calon SPG.
"Kriteria tentu ada. Utamanya tetap harus komunikatif, ramah, dan pandai menjelaskan produk. Kalau soal fisik relatif. Kan perusahaan kadang memiliki kriteria yang berbeda-beda dalam segi fisik," ujarnya. (Tribun Jabar/dd)