Jumat, 10 April 2026

Bisnis Kue Kuping Kancil yang Omzetnya Tak Kecil

Camilan khas dari Kumpeh, Muaro Jambi, kuping kancil ia lihat layak dikembangkan. Hasilnya, pelan dan pasti omzet terus mengalir.

Editor: Hendra Gunawan

TRIBUNNEWS.COM -- BEKERJA sebagai sekuriti tak menumpulkan insting bisnis Mujiburrahman (40). Camilan khas dari Kumpeh, Muaro Jambi, kuping kancil ia lihat layak dikembangkan. Hasilnya, pelan dan pasti omzet terus mengalir.

Berawal saat Idul Fitri tahun 2012. Rahman,  panggilan akrab Mujiburrahman, menyebut itulah awalnya ia tertarik memproduksi kuping kancil. Ini adalah penganan yang menyerupai keripik dan disajikan utamanay saat Lebaran.

"Awalnya saya beserta istri pulang kampung ke Kumpeh tempat tinggal orangtua istri saya. Di sana penganan kuping kancil itu jadi camilan khas. Saya bermaksud membawanya ke Jambi sebagai makanan yang nantinya akan disajikan buat Lebaran, ternyata camilan itu membawa rezeki," ungkap bapak dua anak ini kepada Tribun, Minggu (22/9).

Tak dinyana, Lebaran yang identik dengan aneka kue menjadi etalase dan promo gratis baginya. Dengan menjadi penganan di meja tamu keluarga Rahman, ternyata banyak tetamu tertarik dan memesan. Melihat peluang itu, Rahman beserta istri mencoba peruntungan lewat berjualan kuping kancil ke beberapa toko terdekat dari rumahnya.

"Awalnya pas Lebaran teman kerja dari istri saya yang mencoba memesan dengan sistem kiloan, terus saya berfikir kenapa gak coba jual dengan  bungkus yang nanti dihargai Rp 500 rupiah saat itu," katanya.

Pemikiran itu pun dilakukan Rahman, dengan modal awal Rp 200 ribu. Tak ayal usaha iseng itu membawa untung. Kontan saja peluang itu ditangkap hingga akhirnya Rahman beserta istri memberikan aneka rasa pada si kuping kancil.

Hadir dengan rasa wortel, bayam merah, serta ubi rambat ungu, dan tiga rasa lainnya, permintaan pun semakin banyak berdatangan. Suami Zaitun (40) itu pun mengembangkan usahanya ke tempat yang lebih besar. Rahman langsung mengurus izin Dinkes agar dapat melempar produknya ke mini market hingga swalayan.

"Berjalan hampir enam bulan dari menjual camilan ini ke toko-toko biasa, saya coba kembangkan dengan menyasar mini market dan swalayan, tempat pertama yang saya tuju saat itu ialah, swalayan Meranti," ujar Rahman.

Sampai sekarang, jumlah keseluruhan swalayan yang dituju Rahman sudah mencapai belasan tempat. Menyebut di antaranya, Enha, Jakoz dan Temphoyac.

Sebenarnya, Rahman bisa saja memperluas jaringannya untuk melempar kuping kancil sampai ke mal dan swalayan besar lainnya. Keterbatasan waktu dan tenaga kerja membuat pria ini menahan dahulu penyebaran produknya. Akan tetapi Rahman malah semakin mengembangkan penganan yang dibuatnya, seperti dengan membuat camilan manisan labu dan tempoyak ikan stik.

Selama satu tahun lebih usaha ini dijalankan, omzet yang diterima Rahman bisa mencapai Rp 6 juta per bulan. Satu kali melempar produk, bisa sampai 50 bungkus kuping kancil.

Harga yang ditawarkan rahman untuk camilan kuping kancil ini seharga Rp 6 ribu per bungkus. Untuk manisan labu dan tempoyak ikan stik, Rahman masih menunggu izin Dinkes untuk memasarkannya.

Usaha yang berdiri di Perumahan Kota Baru Indah, Simpang Rimbo ini berbasis keluarga. Akan tetapi Rahman mencoba mempekerjakan karyawan untuk menangani permintaan atau pemesanan dari konsumen.

"Rencana memang mau memperkerjakan karyawan, apalagi kalau memasuki bulan Ramadan dan Natal, permintaan banyak masuk untuk sistem pembelian kiloan," tutupnya. (eko prasetyo)

Sumber: Tribun Jambi
Tags
camilan
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved