Breaking News:

Harga Komoditas Labil, Indonesia Disarankan Fokus ke Sektor Manufaktur

Manufaktur Indonesia perlu fokus memproduksi barang-barang sesuai yang diminati China, yaitu barang-barang konsumsi.

TRIBUNNEWS/RIA ANASTASIA
Head of Mandiri Institute Moekti Soejachmoen dan Deputy Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Tjandra Lienandjaja saat press briefing rencana penyelenggaraan Mandiri Investment Forum 2019 di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (21/1/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ria Anatasia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Harga komoditas yang fluktuatif membuat Indonesia perlu mengubah fokus ekspor le sektor lain. Industri pengolahan atau manufaktur dinilai cocok untuk digarap pada tahun ini guna menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen.

Head of Mandiri Institute Moekti Soejachman mengatakan, pemerintah tidak bisa terus menerus bergantung pada sektor komoditas yang cenderung bergantung pada kondisi perekonomian global. Sektor manufaktur

"Tahun ini diperkirakan pertumbuhan ekonomi 5,3 persen, inflasi hampir sama tahun ini. Dengan harga komoditas yang turu kita perlu mulai fokus ke manufaktur karena tidak bisa terus menerus memggantungkan ekonomi pada komoditas," ujarnya di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (21/1/2019).

Menurutnya, sektor manufaktur cenderung lebih stabil karena kontraknya berlangsung dalam jangka panjang.

Baca: Tahun Politik, Mandiri Sekuritas Optimistis IHSG Bisa Sentuh Level 7.000

Selain itu, industri manufatur bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak.

"Karena manufaktur lebih stabil dan jangka panjang, penyerapan tenaga kerja lebih besar," jelasnya.

Moekti melanjutkan, pola impor China sebagai mitra dagang terbesar Indonesia perlu diperhatikan. Ekonomi Negeri Tirai Bambu itu mengalami perlambatan, dan pola impornya beralih dari bahan baku menjadi bahan-bahan konsumsi.

Baca: Cerita Soal Wanita Misterius yang Pernah Diperkosa Lalu Dibunuh, Sule: Saya Kangen Ingin Lihat

Dengan begitu, manufaktur Indonesia perlu fokus memproduksi barang-barang sesuai yang diminati China, yaitu barang-barang konsumsi.

"Tiongkok impor polanya berubah, dulu bahan baku sekarang ubah pola ekonominya daribproduction ke consumtion, jd lebih ke barang-barang konsumsi impronya. Kita perlu produksi barang-barang yang diminati China, yaitu konsumsi. Indonesia jangan ketinggalan lagi dari tren dunia, harus adjust," pungkasnya.

Penulis: Ria anatasia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved