Breaking News:

Kendaraan Golongan II-V yang Lintasi Tol Cipali Tumbuh 62 Persen

Kalau sistem pembayaran ke pegawai (sopir) masih lump sum, tol tidak akan bisa kompetitif

Tribun Jabar/Ragil Wisnu Saputra
Suasana arus lalu lintas pada H-6 lebaran 2018 di ruas Tol Cipali KM 128 mulai ramai pemudik, Sabtu (9/6/2018) siang. TRIBUN JABAR/RAGIL WISNU SAPUTRA 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA  - Operator tol Cikopo-Palimanan (Cipali), PT Lintas Marga Sedaya (LMS) tidak sepakat dengan pernyataan para pengusaha truk lebih memilih untuk lewat jalur Pantura ketimbang jalur bebas hambatan.

Data LMS, kendaraan golongan II-V justru mengalami pertumbuhan lalu lintas mencapai 62 persen.

Hal itu disampaikan Wakil Direktur Utama LMS,  Firdaus Azis saat Tur Inspirasi Astra Infra Trans-Jawa, Minggu (24/2/2019).

Menurutnya, perusahaan ekspedisi ataupun logistik malahan memanfaatkan tol untuk memangkas waktu distribusi.

“Jadi saya rasa kurang tepatlah kalau malah banyak yang pakai jalan biasa. Perusahaan justru ingin mempercepat waktu tempuh, karena datanya meningkat dari tahun ke tahun,” ujar Firdaus.

Yang terjadi sopir seringkali ingin mendapat keuntungan, Firdaus menegaskan perusahaan harus mengubah pola pembayaran supaya wajib lewat tol.

Baca: Makan Siang di Rest Area KM 166 Tol Cipali, Sandiaga Uno Ungkap Penurunan Pengguna Jalan Tol

"Kalau sistem pembayaran ke pegawai (sopir) masih lump sum, tol tidak akan bisa kompetitif. Dengan truk masuk tol seharusnya ada insentif karena pengantaran singkat,” paparnya Firdaus.

Sebelumnya diberitakan, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Nofrisel mengatakan, penerapan tarif di sepanjang Tol Trans Jawa berpengaruh signifikan terhadap struktur pengeluaran perusahaan truk.

Dibandingkan melalui jalur tol, para pengusaha truk pun lebih memilih untuk lewat jalur Pantura.

"Jadi kita berharap bisa dipertimbangkan untuk tarif tol, di-adjust, ditinjau kembali. Sementara yang dilakkan teman-teman Aptrindo ya sebagian tidak lewat jalan tol. Mereka memilih jalur Pantura biasa," ujar Nofrisel.

Vice President Corporate Jasa Marga (JSMR) Eka Setya Adrianto angkat bicara terkait keluhan pelaku usaha logistik atas besaran tarif tol Trans Jawa yang dinilai kemahalan.

Eka mengatakan, pihaknya kini mengkaji untuk menyeimbangkan keinginan pemegang saham dengan pengguna jalan.

“Keseimbangan ini terus kamu lakukan. Karena dasarnya kami perusahaan publik. Hitungan tarif ini sudah berdasarkan tender, dan lainnya,” kata Eka.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved