Sabtu, 11 April 2026

Akses Cold Storage Masih Jadi Kendala Pelaku UMKM Makanan Beku

Kebutuhan cold storage cenderung meningkat pada periode musiman seperti Ramadan, Lebaran, dan Idul Adha, seiring lonjakan produksi.

HO/IST
AKSES COLD STORAGE - UMKM frozen food selama ini terkendala syarat minimum tonase besar dan kontrak jangka panjang untuk mengakses cold storage. Menjawab kebutuhan tersebut, diperlukan layanan fleksibel dengan kapasitas mulai di bawah 100 kg dan durasi harian tanpa kontrak panjang (HO/Jatiasih Cold Storage) 
Ringkasan Berita:
  • UMKM makanan beku masih kesulitan mengakses cold storage karena syarat minimum tonase dan kontrak panjang
  • Kebutuhan meningkat saat musim ramai, namun layanan dinilai belum sesuai dengan kebutuhan usaha kecil
  • Skema fleksibel mulai ditawarkan untuk memperluas akses dan efisiensi biaya.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor makanan beku masih menghadapi kendala dalam mengakses fasilitas penyimpanan bersuhu terkontrol (cold storage), terutama terkait persyaratan minimum tonase dan kontrak jangka panjang.

Kebutuhan cold storage cenderung meningkat pada periode musiman seperti Ramadan, Lebaran, dan Idul Adha, seiring lonjakan produksi dan distribusi produk makanan beku. Namun, skema layanan yang tersedia selama ini dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan karakter usaha skala kecil yang membutuhkan fleksibilitas volume dan durasi penyimpanan.

Sejumlah penyedia jasa logistik mulai menawarkan skema penyimpanan yang lebih fleksibel untuk menjawab kebutuhan tersebut, antara lain melalui layanan dengan kapasitas kecil tanpa kewajiban kontrak jangka panjang.

Baca juga: Hardjuno Tawarkan Model Perlindungan Hukum Tripartit Demi Lindungi 64 Juta UMKM di Era Digital

Direktur Utama PT Jatiasih Cold Storage, Tri Hesti Murti mengatakan, pelaku usaha kecil kerap menghadapi keterbatasan akses akibat skema layanan yang tidak sejalan dengan kebutuhan operasional.

“Pelaku usaha sering membutuhkan penyimpanan dalam volume terbatas dan waktu singkat, terutama saat permintaan meningkat. Skema fleksibel menjadi salah satu opsi yang mulai dikembangkan,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).

Ia menambahkan, integrasi antara fasilitas pembekuan cepat (air blast freezer) dan penyimpanan dalam satu lokasi dinilai dapat membantu menjaga kualitas produk. Proses pembekuan yang cepat dan berkelanjutan mampu meminimalkan risiko perubahan suhu selama penanganan.

Di sisi lain, pelaku UMKM menilai akses terhadap infrastruktur cold chain masih menjadi tantangan, terutama dari sisi biaya dan skala layanan.

“UMKM membutuhkan opsi penyimpanan yang lebih fleksibel, baik dari sisi volume maupun durasi, agar biaya operasional dapat disesuaikan dengan kebutuhan, khususnya saat permintaan meningkat,” ujar Samhadi, salah satu pelaku usaha makanan beku di Bekasi.

Selain itu, keberadaan fasilitas pembekuan dan penyimpanan dalam satu lokasi juga dinilai dapat mengurangi risiko penurunan kualitas produk karena meminimalkan perpindahan barang antar lokasi.

Berdasarkan tren industri, permintaan produk makanan beku di dalam negeri terus meningkat, didorong perubahan pola konsumsi serta berkembangnya distribusi berbasis digital. Kondisi ini turut mendorong kebutuhan terhadap sistem logistik dingin yang lebih adaptif.

Model layanan cold storage yang fleksibel berpotensi memperluas akses bagi UMKM, namun tetap memerlukan dukungan dari sisi efisiensi biaya dan pemerataan infrastruktur.

"Fleksibilitas penting, tetapi keberlanjutan layanan dan keterjangkauan harga juga menjadi faktor kunci,” ujarnya. (Eko sutriyanto)

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved