Pemisahan di Sumber dan Pengelolaan Sampah Terpadu Bisa Jadi Solusi Masalah Sampah Plastik

Indonesia sebagai negara yang ingin mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi, tentu saja bergantung pada pertumbuhan industri plastik

Pemisahan di Sumber dan Pengelolaan Sampah Terpadu Bisa Jadi Solusi Masalah Sampah Plastik
Tribun Jateng /Hermawan Handaka
Kapal nelayan melintas di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) kawasan Tambak Lorok, Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jumat (26/7). Sampah plastik hingga kini masih menjadi persoalan serius bagi Indonesia dan juga negara lain di dunia. Melihat perkembangan masalah sampah plastik, agaknya pemerintah memang sudah harus mempercepat perbaikan sistem pengelolaannya. (Tribun Jateng/Hermawan Handaka) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik (Inaplas) dan Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi) menilai, pemilahan sampah di sumber dan peningkatan pengelolaan sampah terpadu bisa menyelesaikan permasalahan sampah plastik.

Direktur Bidang Olefin dan Aromatik Inaplas Edi Rivai, mengatakan plastik merupakan barang berguna yang diaplikasikan ke jutaan jenis kebutuhan manusia sehari-hari, dari interior mobil dan pesawat terbang, furniture, sampai ke kemasan makanan.

"Dari pertama kali ditemukan sampai saat ini, plastik telah meningkatkan kualitas hidup manusia secara signifikan, terutama dalam segi penghematan energi dan kesehatan,” ujar Edi Rivai, Kamis (8/8/2019).

Menurut Edi, Indonesia sebagai negara yang ingin mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi, tentu saja bergantung pada pertumbuhan industri plastik baik dari hulu sampai hilir yang sustainable.

Berdasarkan data Inaplas (2017), total konsumsi plastik Indonesia secara total adalah 5,76 juta ton per tahun dengan rata-rata konsumsi per kapita sebesar 19,8 kg/kapita, jauh lebih rendah dibandingkan konsumsi plastik di negara lain seperti Korea, Jerman, Jepang, serta Vietnam yang konsumsi per kapita masing-masing sebesar 141 kg, 95,8 kg, 69,2 kg, dan 42,1 kg.

Angka konsumsi suatu negara berbanding lurus dengan tingkat pertumbuhan ekonomi, serta kemajuan suatu negara

Sementara itu, perwakilan Adupi Indra Novint, mengatakan untuk mendukung pertumbuhan industri, diperlukan iklim usaha yang kondusif dan mumpuni dan bukanlah pelarangan terhadap produk plastik seperti kantong plastik.

Baca: Kementan Siap Dukung Prasarana dan Sarana Pertanian Prukades Bangka Selatan

Baca: Ini Komponen Canggih Mobil Formula Listrik Anargya EV MARK 1.0 Karya Mahasiswa ITS Surabaya

“Plastik itu dapat didaur ulang dan perlu dilihat sebagai produk bernilai, bukan sampah. Industri daur ulang kami adalah industri padat karya yang rantai nilainya menyerap jutaan tenaga kerja yang meliputi unit usaha kecil menengah, pelapak, pengepul dan pemulung yang akan terkena dampak buruk jika produk plastik dilarang,” tuturnya.

Adupi dan Inaplas sepakat, kunci utama permasalahan sampah plastik terletak pada perubahan perilaku memilah sampah plastik dari sumber yang bisa dilakukan dalam gerakan nasional serempak di Indonesia.

"Selain itu, meningkatkan jumlah fasilitas pengelolaan sampah secara signifikan, baik infrastruktur maupun sumber daya manusia di setiap daerah, dan memupuk pertumbuhan industri daur ulang agar menyerap lebih banyak lagi sampah plastik," katanya.

Saat ini, Inaplas telah menerapkan program jalan aspal yang terbuat dari campuran sampah plastik serta program Manajemen Sampah Zero yang diterapkan oleh pelaku usaha anggotanya.

Sementara Adupi telah bekerja sama dengan bank-bank sampah terpadu serta pengepul, pelapak dan pemulung sampah di seluruh Indonesia dalam menggenjot jumlah plastik post-consumer untuk didaur ulang menjadi barang bernilai seperti kantong plastik hasil daur ulang, tali raffia, pallete plastik daur ulang untuk penggunaan di pabrik, serta banyak hal lainnya.

Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved