Kebijakan Tarif Cukai dan HJE Diminta Ditinjau Ulang, Ini Alasannya

Masa depan industri hasil tembakau (IHT) pasca diumumkannya kenaikan tarif cukai rokok hingga 23% dan harga jual eceran (HJE) sebesar 35% seperti . .

Kebijakan Tarif Cukai dan HJE Diminta Ditinjau Ulang, Ini Alasannya
kontan.co.id
Ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Masa depan industri hasil tembakau (IHT) pasca diumumkannya kenaikan tarif cukai rokok
hingga 23% dan harga jual eceran (HJE) sebesar 35% seperti berada di persimpangan jalan.

Keputusan pemerintah, yang mulai berlaku 1 Januari 2020, tersebut dinilai berpotensi menghancurkan industri rokok, serapan hasil petani tembakau, dan meningkatkan peredaran rokok ilegal.

Pernyataan tersebut mengemuka dalam diskusi media bertajuk "Masa Depan IHT Pasca Kenaikan Cukai", yang digelar Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia, Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (LPSDM YMIK), yang digelar pada Senin (23/9/2019) di kafe Tjikinii Lima, Jakarta.

Baca: Penampilan Marko Simic Dinilai Kurang Greget Saat Persija Lawan Barito Putera

Baca: Timnas U-16 Indonesia Jadi Tim Terproduktif Ketiga di Kualifikasi Piala Asia U-16 2020

Baca: Pasutri Jember Jadi Korban Begal di Lumajang, Suami Tewas Dibacok

“LPSDM YMIK melihat bahwa diskusi media ini perlu dilakukan sebagai pembelajaran untuk kita semua baik akademisi, mahasiwa, dan umum. Diskusi ini juga berkaitan dengan pembahasan menyangkut ekonomi, politik, dan sosial budaya,” kata
Evert Haryanto Hilman, Direktur LPSDM YMIK.

Hadir dalam diskusi media tersebut adalah Willem Petrus Riwu (Sekjen Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok, GAPPRI), Dita Indah Sari (Ketua DPP PKB Bidang Ketenagakerjaan dan Migran), Dr. Enny Sri Hartati (Indef), dan Mohamad Sobari (budayawan). 

Sekjen Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok (GAPPRI) Willem Petrus Riwu mengatakan pihaknya kecewa terhadap kenaikan besaran cukai dan HJE yang sangat tinggi bahkan tidak pernah dikomunikasikan dengan pabrikan.

Akibat kenaikan itu, dampak negatif pun mulai menghampiri para petani tembakau dan tenaga kerja yang bersangkutan. Adapun dampak yang akan dirasakan bagi industri tembakau adalah penurunan volume produksi sebanyak 15% di tahun 2020.

Kemudian, penyerapan tembakau dan cengkeh akan menurun juga sampai 30%.

Tak hanya itu, kenaikan tarif cukai yang tinggi juga akan membuka peluang maraknya rokok ilegal.

Ia juga memperkirakan, pabrik rokok kecil menengah juga akan terancam tutup dan diperkirakan jumlahnya sekitar 400 pabrik. Willem bilang, perusahaan tersebut akan sulit memikul beban kenaikan cukai tersebut dan rokok mereka tidak akan laku.

“Kalau sudah tidak laku ya mereka pasti berhenti beroperasi, karena menurut bea cukai hanya 14 pabrik rokok besar, namun yg paling terasa dampaknya kan yang pabrik kecil,” Ujarnya Willem.

Menurut Willem, kenaikan sebesar 23% ini terlalu agresif atau tinggi sehingga tak hanya menggoyahkan pabrik rokok melainkan juga akan mengancam dan merenggut mata pencaharian petani tembakau.

“Kita tidak menyalahkan siapapun dalam kenaikan cukai tersebut, hanya saja ini terlalu tinggi, Belum diterapkan saja sudah terasa dampaknya bagi produksi dan petani,” Ujar Willem kepada KONTAN, Senin (23/9).

Ia berharap kenaikan tersebut dibatas wajar yakni hanya sekitar 9-10% saja.

Berita ini sudah tayang di Kontan dengan judul: Kenaikan tarif cukai rokok terlalu agresif dan menimbulkan banyak dampak negatif

Editor: Malvyandie Haryadi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved