''Latte Factor'' Jadi Permasalahan Milenial Malas Beli Properti

Latte Factor atau kebiasaan belanja receh yang pengeluarannya tidak seberapa, namun rutin dilakukan menjadi permasalahan serius.

''Latte Factor'' Jadi Permasalahan Milenial Malas Beli Properti
TRIBUN/HO
Direktur PT Bakrie Swasakti Utama Djafarullah (kanan) didampingi Direktur Operasional PT Bakrie Swasakti Utama Melky Aliandri (kiri) serta Sales & Marketing Division Head PT Bakrie Swasakti Utama Hermon Simanjuntak (tengah) berbincang dalam sebuah acara pameran properti di Jakarta, Sabtu (21/9/2019). PT Bakrie Swasakti Utama memastikan percepatan aktivitas penjualan apartemen siap huni The Masterpiece dan The Empyreal yang terletak di kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan. Tingkat okupansi kedua proyek apartemen tersebut saat ini mencapai angka 40%. TRIBUNNEWS/HO 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Latte Factor atau kebiasaan belanja receh yang pengeluarannya tidak seberapa, namun rutin dilakukan menjadi permasalahan serius.

Persoalan ini kerap dilakukan kaum milenial mulai dari membeli kopi kekinian hingga order makanan online.

Managing Partner Grant Thornton Indonesia Johanna Gani, menjelaskan latte factor bisa muncul dengan mudahnya hanya karena kebiasaan, tekanan sosial bahkan kontrol diri yang lemah.

Baca: Miguel Oliveira Masih Belum Fit Diragukan Tampil di MotoGP Malaysia 2019

Baca: Tak Hanya di Jakarta, PLN Juga Bangun SPKLU di Dua Wilayah Ini

Maka kemudian latte factor membuat generasi milenial yang memasuki umur berkeluarga mayoritas malas untuk membeli properti.

“Tanpa disadari latte factor menggerogoti penghasilan hingga sulit untuk menabung apalagi berinvestasi,” ujar Johanna, dalam keterangan tertulis, Selasa(29/10/2019).

Sebagai bagian dari investasi jangka panjang, properti tampaknya belum tertanam dalam pola pikir maupun mindset milenial bahwa tidak hanya berfungsi sebagaiinstrumen investasi namun juga kebutuhan pokok.

“Dengan banyaknya latte factor hingga faktor lainnya seperti tren traveling bertujuan eksplorasi berbagai tempat selagi muda makin menjauhkan generasi milenial dari rasa ingin memiliki rumah,” ucap dia.

Berdasarkan house price to annual income ratio atau harga rumah berbanding pendapatan per tahun, harga properti yang sebaiknya dibeli maksimal 3 (tiga) kali dari penghasilan tahunan.

Apabila pengeluaran untuk latte factor ini bisa dikontrol dan diminimalisir, tentu ada potensi dana yang bisa ditabung untuk down payment properti impian atau diinvestasikan di instrumen lainnya.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved