Mamit Sayangkan Penghentian Pengeboran Chevron karena Bisa Berpengaruh terhadap Produksi Migas

Mamit Setiawan mengaku menyayangkan keputusan itu karena dinilai akan berpengaruh besar terhadap penurunan produksi migas nasional.

net/google
Ilustrasi. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Chevron Pacific Indonesia menyampaikan sudah tidak berniat melakukan pengeboran di Blok Rokan karena sudah tidak ekonomis.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengaku menyayangkan keputusan itu karena dinilai akan berpengaruh besar terhadap penurunan produksi migas nasional. 

“Chevron sudah menghentikan pengeboran, padahal mereka masih kontraktor di sana dan baru berakhir pada 2021. Ini berpotensi mengganggu stok migas nasional," ujar Mamit di Jakarta hari ini (26/1/2020).

Menurut Mamit, selama ini sumbangan Blok Rokan cukup besar, bahkan terbesar kedua setelah Blok Cepu. Rokan juga memiliki cadangan minyak yang luar biasa. “Jadi masih ada potensi besar di sana. Bahkan sebenarnya, masih ada sejumlah sumur yang belum digarap oleh Chevron,” imbuhnya.

Baca: Kisah Pilu Bupati Pelalawan, Terpaksa Gendong Jenazah Anaknya karena Tak Mampu Sewa Ambulans

Baca: KBRI: Jenazah Perempuan Muda WNI Korban Kecelakaan Dimakamkan di Italia

Penghentian pengeboran sumur Rokan oleh Chevron, menurut Mamit tidak hanya berpengaruh terhadap penurunan produksi migas nasional. Selain itu, juga menyulitkan Pertamina untuk menaikkan produksi, ketika BUMN tersebut mulai menggarap Rokan pada 2021.

Harusnya, jelas dia, alih kelola Rokan berkaca pada Mahakam. Ketika itu kontraktor lama juga menghentikan pengeboran pada masa transisi. Dan tentu saja, ketika Pertamina mulai mengambil alih Mahakam ketika itu, produksi justru menurun.

“Ujung-ujungnya semua menyalahkan Pertamina. Mereka tidak tahu sejarahnya, bahwa itu karena ketika transisi tak ada pengeboran lagi. Ini yang saya khawatirkan juga akan terjadi pada Blok Rokan,” tegasnya.

Itu sebabnya, Mamit berharap, persoalan masa transisi ini segera diselesaikan. Pemerintah bisa duduk bersama, untuk memberikan solusi terbaik. 

“Ke depan, saya berharap agar pemerintah membuat peraturan atau mekanisme agar perpindahan kontrak bisa berjalan dengan lancar dan baik. Ini harus clear,” pungkasnya.

Tak ada pengeboran lagi

Sebelumnya, PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) menyatakan, sudah tidak ada lagi pengeboran sumur baru di Blok Rokan.

Bahkan, pengeboran sumur baru terakhir kali dilakukan pada tahun 2018. Presiden Direktur CPI Albert Simanjuntak mengatakan, langkah tersebut dilakukan perusahaan jelang transisi hak kelola dengan PT Pertamina (Persero).

Selain itu, kontrak hak kelola Blok Rokan CPI juga akan berakhir pada Agustus 2021. Oleh karenanya proses pengeboran sumur baru dinilai sudah tidak lagi menguntungkan atau ekonomis.

"Mengingat saat ini kami sudah nggak ekonomis untuk bor sumur. Kami tidak melakukan pengeboran, terakhir pengeboran 79 sumur tahun 2018," ujarnya di Gedung DPR, Jakarta, Senin (20/1/2020) lalu seperti yang dikutip dari Kompas.com dalam judul Jelang Transisi ke Pertamina, Chevron Sudah Tidak Mengebor Blok Rokan 

Berita Populer
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved