Breaking News:

Gejolak Rupiah

BI: Rupiah Jadi Terburuk karena Isu Domestik

BI menyatakan, terus berupaya menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah berbagai tantangan dari ekspektasi pelaku pasar saat pandemi Covid-19.

KONTAN/Fransiskus Simbolon
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyatakan, terus berupaya menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah berbagai tantangan dari ekspektasi pelaku pasar saat pandemi Covid-19.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan, tidak mudah untuk mengelola rupiah agar stabil karena pasar sedang tidak ramah terhadap mata uang Garuda.

"Karena kita berhadapan dengan ekspektasi, kita berhadapan dengan konfiden di pasar 2 sampai 3 hari ini. Pada saat global-nya relatif tenang, ternyata rupiah menjadi salah satu mata uang yang terburuk di regional Asia," ujarnya saat webinar, Jumat (3/7/2020).

Baca: Loyo, Rupiah Kembali Dekati Level Rp 14.500 Per Dollar AS

Menurut Dody, pelemahan rupiah selama 7 hari beruntun dan terlemah sebulan terakhir di Asia merupakan dampak dua isu utama yakni gelombang kedua Covid-19 dan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

"Karena masalah domestiknya, jadi banyak isu yang muncul. Misalnya kemungkinan dampak gelombang kedua Covid-19 di ekonomi Indonesia, termasuk isu yang beredar dari DPR terkait dengan burden sharing (pembagian beban), dan seterusnya," katanya.

Hal ini dinilai berakibat terhadap nilai tukar rupiah yang sampai hari ini juga masih tertekan hingga Rp 14.400 per dolar Amerika Serikat, sehingga pekerjaan BI menjadi lebih berat.

"Jadi, ini yang menunjukkan bagaimana upaya stabilitas nilai tukar ini masih harus dilakukan secara tepat oleh Bank Indonesia. Kita melihat bahwa aliran portofolio asing ke SBN ini sudah mulai masuk beberapa hari terakhir, namun bisa berbalik kalau kepercayaan mereka menurun," pungkasnya.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot dibuka melemah ke Rp 14.468 per dolar AS, Jumat (3/7/2020).

Berdasarkan data Bloomberg, posisi turun 0,63 persen dibandingkan penutupan Kamis (2/7/2020), yakni Rp 14.378 per dolar AS.

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra mengatakan, sentimen negatif masih membayangi pergerakan aset berisiko.

Pasar khawatir terhadap penularan Covid-19 yang terus meningkat.

Penulis: Yanuar Riezqi Yovanda
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved