Breaking News:

PHRI: Okupansi Hotel Mulai Naik saat New Normal, tapi Belum Signifikan

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sempat membuat 1.600 hotel tutup karena okupansi single digit.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio saat meninjau fasilitas pelayanan di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Rabu (8/7/2020). Peninjauan tersebut dalam rangka melihat protokol kesehatan untuk hotel dan restoran di era Normal Baru. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyatakan, tingkat okupansi hotel saat ini masih sulit untuk kembali ke periode sebelum ada pandemi Covid-19.

Ketua Bidang Media dan Komunikasi BPP PHRI AB Sadewa mengatakan, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sempat membuat 1.600 hotel tutup karena okupansi single digit.

"Di tiap wilayah beda-beda dan di kota dengan PSBB membuat orang tidak bisa untuk menginap di hotel," ujarnya saat webinar, Rabu (15/7/2020).

Baca: Akibat Covid-19, PHRI: Kerugian Hotel dan Restoran Tembus Rp 70 Triliun

Kabar baiknya, kebutuhan akan penginapan kembali meningkat saat ada pelonggaran PSBB atau masuk era new normal, khususnya di pinggiran kota besar yakni Bogor dan sekitarnya.

"Kita lihat di pinggir kota besar kayak Bogor ada peningkatan di weekend, tapi di weekday dari pasar korporasi belum naik. Beda dengan hotel di luar pulau Jawa karena tidak sebaik aksesnya di Jawa, disana agak jauh dan harus pakai pesawat," kata Sadewa.

Selain itu, peraturan cek kesehatan sebelum berpergian via pesawat terbang menjadi kendala lain, sehingga tidak signifikan mendongkrak okupansi.

"Tidak bersahabat, ada aturan tes PCR. Jadi tidak terlalu signifikan, cukup naik 30 persen di weekday dan 50 sampai 60 persen di weekend," pungkasnya.

Penulis: Yanuar Riezqi Yovanda
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved