Kamis, 21 Mei 2026

Ketika Bekatul Tak Lagi Dipandang Sebelah Mata di Tangan Yulia

Yulia tak pernah membayangkan langkah dari dapur rumahan membawanya sampai ke pameran UMKM dan berkenalan dengan pembeli luar negeri

Tayang:
Tribunnews/IST
SULAP BEKATUL - Yuliani Setiawati, owner Dbroo Kitchen dengan produk utama Bekroll, singkatan dari bekatul egg roll. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha

TRIBUNNEWS.COM, SOLO - Riuh pengunjung memenuhi area Jakarta Convention Center siang itu. Di antara deretan stan UMKM yang dipadati orang, Yuliani Setiawati tampak membetulkan susunan kemasan camilan di meja kecil miliknya.

Sesekali perempuan asal Solo itu melayani calon pembeli yang penasaran dengan camilan berbahan bekatul buatannya. Tidak sedikit pengunjung baru mengetahui bahwa lapisan ari beras dapat diolah menjadi makanan ringan modern.

Yulia tak pernah membayangkan langkah dari dapur rumahan di Laweyan membawanya sampai ke pameran UMKM berskala nasional di Jakarta.

Bahkan, ada pembeli dari Australia dan Amerika yang mulai melirik produk miliknya.

“Awalnya saya cuma ingin mengenalkan produk saja. Ternyata ada yang tertarik dari luar negeri,” kenangnya bercerita, Jumat (15/5/2026).

Produk yang dibawa Yulia bernama Bekroll atau Bekatul Egg Roll, camilan renyah hasil perpaduan resep tradisional dan modern.

Bentuknya menyerupai egg roll, tetapi bahan utama berasal dari bekatul, lapisan luar beras yang terpisah saat proses penggilingan padi.

Pemilik Dbroo Kitchen, Yuliani Setiawati dengan produk utama Bekatul Egg Roll alias Bekroll.
Pemilik Dbroo Kitchen, Yuliani Setiawati dengan produk utama Bekatul Egg Roll alias Bekroll. (Tribunnews)

Selama bertahun-tahun, bekatul lebih sering dianggap bahan sisa dengan nilai ekonomi rendah.

Di banyak tempat, bahan tersebut lazim dipakai sebagai campuran pakan ternak atau sekadar hasil sampingan dari proses pengolahan beras.

Baca juga: Transformasi Sangkar Burung Eank Solo, Manfaatkan Barang Limbah Jadi Berkah

Padahal, bekatul memiliki kandungan serat dan nutrisi cukup tinggi.

Pandangan itulah yang perlahan ingin diubah Yulia.

Di tangan perempuan asal Solo tersebut, bekatul tidak lagi dipandang sebagai limbah penggilingan padi. Ia mencoba mengolah bahan sederhana itu menjadi camilan modern yang lebih dekat dengan selera pasar saat ini.

Namun perjalanan menuju titik tersebut tidak berlangsung singkat.

Yulia dulu  adalah pegawai bank yang memilih keluar kerja untuk menuruti panggilan berwirausaha.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved