Breaking News:

KKP Kembangkan Aplikasi Laut Nusantara untuk Bantu Nelayan Menangkap Ikan

Laut Nusantara adalah sebuah inovasi teknologi penangkapan ikan dalam bentuk aplikasi berbasis android.

dok Kementerian Kelautan dan Perikanan
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono pada kunjungan kerjanya, Jumat (26/3), di Kampung Nelayan Maju, Desa Suak Gual, Belitung. 

TRIBUNNEWS.COM, BELITUNG – Laut Nusantara adalah sebuah inovasi teknologi penangkapan ikan dalam bentuk aplikasi berbasis android.

Saat ini aplikasi tersebut terus dikembangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), agar semakin besar manfaatnya bagi nelayan Indonesia.

Baca juga: KKP Jadikan Suak Gual Sebagai Percontohan Kampung Nelayan Maju

Hadirnya aplikasi ini ditujukan sebagai motor penggerak transformasi budaya nelayan dari “mencari ikan” menjadi “menangkap ikan” melalui pemanfaatan teknologi informasi.

Hanya dalam satu genggaman aplikasi, nelayan dapat merencanakan kegiatan penangkapan ikan dengan lebih baik, mulai menentukan secara mandiri lokasi penangkapan ikan terdekat, estimasi kebutuhan BBM, dan estimasi harga jual, dengan tetap mempertimbangkan kondisi cuaca dan gelombang saat bekerja di laut.

Baca juga: Menteri Trenggono Lepas Ekspor Tujuh Kilogram Biji Mutiara Asal Lombok ke Tiongkok

“Ya nelayan diajarin. Ada Pak Bupati. Pak Kades sudah tahu belum ada aplikasi Laut Nusantara? Ya harus tahu,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono pada kunjungan kerjanya, Jumat (26/3), di Kampung Nelayan Maju, Desa Suak Gual, Belitung.

“Ini mengombinasikan data-data satelit. Data-data observasi dan pemodelan kita padukan semua jadi ini real time Pak setiap hari kita perbarui datanya. Selain ini pun kita coba mengombinasikan dengan berbagai kemudahan,” tutur Kepala Pusat Riset Kelautan BRSDM I Nyoman Radiarta.

Saat ini terdapat pengembangan berupa fitur baru yang mampu menunjukkan tiga jenis ikan dengan nilai ekonomis tinggi, yaitu yellow fin tuna, blue fin tuna, dan tuna albakore. Sebelumnya telah ada pada aplikasi Laut Nusantara yaitu ikan lemuru, tuna mata besar dan cakalang.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono di Desa Suak Gual, Kecamatan Selat Nasik, Kabupaten Belitung
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono di Desa Suak Gual, Kecamatan Selat Nasik, Kabupaten Belitung (dok Kementerian Kelautan dan Perikanan)

“Kami dari BRSDM. Jadi aplikasi ini sudah versi kelima Pak. Jadi kita mengombinasikan antara lokasi ikan secara nasional kemudian lokasi ikan secara spesies. Ada lemuru, ada berbagai spesies tuna serta lokasi ikan secara nasional,” kata Nyoman.

Dalam mengembangkan aplikasi ini, Balai Riset dan Observasi Laut BRSDM bersinergi dengan PT. XL Axiata Tbk.

“Meskipun kita sudah kerja sama dengan XL Axiata, tapi semua platform bisa menggunakan aplikasi ini,” lanjut Nyoman.

Hingga saat ini, Laut Nusantara telah diunduh oleh 52 ribu pengguna dan disosialisasikan di 28 wilayah di Indonesia. Melalui kinerja Laut Nusantara dan inovasi pelayanan digital KKP lainnya, KKP juga telah memperoleh anugerah Keterbukaan Informasi Publik pada tahun 2020.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved