Sabtu, 2 Mei 2026

Indonesia Disebut-sebut Sebagai Biang Krisis Energi di Singapura

Otoritas Pasar Energi atau Energy Market Authority (EMA) Singapura menyebutkan volatilitas harga gas alam cair

Tayang:
Editor: Hendra Gunawan
Calvin Teo
Jalur hubung antara Malaysia dan Singapura, Johor–Singapore Causeway. 

TRIBUNNEWS.COM -- Singapura kini menjadi salah satu negara yang paling kritis dalam hal krisis energi.

Ternyata permasalahan yang terjadi di negeri tersebut akibat pengaruh produksi energi dari Indonesia.

Otoritas Pasar Energi atau Energy Market Authority (EMA) Singapura menyebutkan volatilitas harga gas alam cair, mempengaruhi pasokan gas alam yang disalurkan dari Indonesia.

“Masalah produksi hulu di lapangan gas West Natuna Indonesia telah mengakibatkan penurunan produksi, yang kemungkinan akan berlangsung hingga akhir 2021,” catat EMA.

Tekanan gas dari Sumsel menurun karena permintaan yang lebih tinggi dari pengguna gas baik di hulu maupun di Singapura.

Baca juga: Krisis Energi Singapura Semakin Genting, Tiga Pengecer Listrik Gulung Tikar, Otoritas Bertindak

“Kegentingan energi global telah membuatnya secara signifikan lebih mahal bagi perusahaan pembangkit listrik untuk mengamankan LNG spot tambahan untuk menebus penurunan pasokan gas alam perpipaan," demikian disebutkan oleh EMA yang dikutip dari Financial Review.

Banyak konsumen dengan rencana harga tetap tidak merasakan banyak dampak dari kenaikan biaya produksi listrik, tetapi pengecer yang membeli di pasar spot merasakannya.

Akibat krisis tersebut, Pemerintah Singapura akan melakukan peningkatan cadangan gas dan menginvertensi pasar listrik grosir sebagai dampak lonjakan harga bahan bakar.

Financial Review memberitakan, Selasa lalu pengecer listrik Best Electricity gulung tikar karena "kondisi volatil yang tidak terduga".

Baca juga: Dihantam Krisis Listrik, Ekonomi China Kuartal III Tumbuh di Level Terendah dalam Setahun

Karena kondisi semakin 'genting' pada hari itu juga Otoritas Pasar Energi (EMA) Singapura membatasi penjualan kelebihan gas oleh perusahaan pembangkit listrik (Gencos) karena berupaya meningkatkan keamanan energi di negara-kota, di mana 95 persen listrik dihasilkan dari gas alam impor.

Permintaan listrik Singapura melambung, hal ini dibarengi dengan meroketnya biaya produksi tenaga listrik.

Selain Best Electricity, dua pengecer lain telah "mengibarkan bendera putih" minggu lalu, termasuk iSwitch, pemain independen terbesar dan pelanggan yayasan potensial untuk proyek Sun Cable Australia.

Konsumen Singapura telah mendapat manfaat dari tagihan listrik yang lebih murah dan kontrak harga tetap sejak pasar dibuka pada tahun 2018, tetapi dalam beberapa bulan terakhir pengecer telah berjuang untuk menyerap kenaikan tarif di pasar grosir.

Ada spekulasi bahwa Genco telah mendorong harga lebih dari yang diperlukan.

EMA mengatakan sedang memantau pasar grosir dengan cermat dan akan melakukan intervensi jika perlu.

Baca juga: India Hadapi Krisis Listrik karena Stok Batu Bara Menipis hingga Harga Batu Bara dari Indonesia Naik

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved