Breaking News:

Potensi Wisata Medis di Indonesia Belum Digarap Maksimal

Perusahaan NusaStroke mendorong penanganan stroke dengan konsep wisata medis di Indonesia.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Hendra Gunawan
istimewa
Direktur Utama NusaStroke Astri Abyanti. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perusahaan NusaStroke mendorong penanganan stroke dengan konsep wisata medis di Indonesia.

Wisata medis istilah bagi orang yang ingin mengecek kesehatannya tapi juga ingin menikmati perjalanan mulai berbelanja hingga kegiatan kultural.

Direktur Utama NusaStroke Astri Abyanti mengatakan wisata medis belum pernah digarap serius selama ini.

"Padahal potensinya sangat besar melihat layanan kesehatan di Indonesia pun tidak kalah dengan yang terdapat di luar negeri terutama yang berhubungan dengan penanganan stroke,” ujar Astri dalam webinar di Jakarta, Selasa (2/11/2021).

Baca juga: Jakarta PPKM Level 1, Ini Aturan Lengkap di Mal, Bioskop, dan Tempat Wisata

Ia menyampaikan alasan penyakit stroke menjadi fokus wisata medis karena stroke merupakan penyebab kematian dan kecacatan tertinggi di Indonesia.

Namun masih minim informasi serta edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan, deteksi dini hingga perawatan berkelanjutannya.

"Kami berharap dapat mulai meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pengecekan berkala sebelum terkena penyakit stroke dengan memberikan jasa berbentuk paket-paket layanan kesehatan yang telah dilengkapi dengan akomodasi dan transportasi serta agenda jalan-jalan,” lanjutnya.

Saat ini, layanan NusaStroke terdapat di Jakarta dan Surabaya dengan mitra rumah sakit yang telah memiliki penanganan stroke lengkap dan sangat baik seperti RS St Carolus Jakarta dan New Brain Clinic Surabaya.

Baca juga: Kominfo Dukung Wisata Aman di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

Sebelumnya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menyampaikan jumlah anggaran yang dikeluarkan oleh masyarakat Indonesia untuk berwisata medis ke luar negeri mencapai Rp 100 triliun.

Sejak adanya pandemi, wisata medis ke negara tetangga menurun drastis dikarenakan keterbatasan regulasi untuk penerbangan dan protokol kesehatan.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved