Bandara Kualanamu Dinilai Mampu Saingi Changi dan KLIA

Bandar Udara Internasional Kualanamu dinilai mampu menyaingi Singapore Changi Airport dan Kuala Lumpur International Airport (KLIA).

dok Angkasa Pura II
Bandara Kualanamu. Bandara Kualanamu Dinilai Mampu Saingi Changi dan KLIA 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Rhenald Kasali menilai, Kemitraan strategis PT Angkasa Pura (AP) II dengan GMR Airports Consortium akan membawa Bandar Udara Internasional Kualanamu mampu menyaingi Singapore Changi Airport dan Kuala Lumpur International Airport (KLIA).

Rhenald Kasali mengatakan, dengan target menjadi hub internasional, bandara di Sumatera Utara ini diperkirakan memiliki trafik penumpang hingga 54 juta orang pada tahun ke 25 kemitraan, atau setara Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.

"GMR Airports adalah sebuah operator yang sudah berpengalaman di dunia, dan tentunya memiliki jaringan untuk mendatangkan trafik baru tersebut," kata Rhenald Kasali dalam siaran persnya, Senin (6/12/2021).

Rhenald menuturkan, Bandara Kualanamu pada saat sebelum pandemi masih didominasi oleh penerbangan domestik sebesar 90 persen, sementara penerbangan internasional hanya tercatat 10 persen.

Dia menilai, jika dibiarkan, bandara yang disebut memiliki posisi strategis untuk menyaingi Changi Airport dan KLIA ini tentu bakal tidak berkembang dan akan tergerus daya saingnya.

"Jadi targetnya adalah mendatangkan trafik international baru sebanyak-banyaknya," kata Rhenald.

Rhenald juga mengatakan, selain mendapat keuntungan pengembangan aset dari kerja sama pengelolaan bandara dengan skema Build, Operate & Transfer (BOT), GMR Airports diharapkan bisa mendatangkan trafik penerbangan internasional dari Asia Selatan.

Rhenald menyebut trafik yang dimaksud adalah trafik transit.

Baca juga: Soal Kabar Penjualan Aset Bandara Kualanamu ke India, Kementerian BUMN-AP II Diminta Transparan

"(Kalau transit) jelas bisa menguntungkan negara, karena artinya mendatangkan trafik baru, menciptakan pasar, dan mereka tahu bagaimana mempercepatnya," kata dia.

Dijelaskan Rhenald, Asia Selatan sendiri merupakan kawasan paling padat kedua di Asia, setelah Asia Timur (Tiongkok), yang rata-rata merupakan pekerja migran aktif datang dan pergi bekerja ke seluruh penjuru dunia. Termasuk ke Malaysia, Singapura, Australia, dan lain-lain.

Selama ini pun, kata Rhenald, para pengunjung transit di Singapura dan Malaysia, sehingga menjadikan bandara di kedua negara tersebut sebagai hub internasional dan tersibuk.

Khususnya pada waktu di luar jam-jam sibuk, yatu tengah malam jelang dini hari.

Di sisi lain, Rhenald juga menampik mengenai kekhawatiran sejumlah pihak soal ada penjualan aset dalam kerja sama pengelolaan bandara dengan skema BOT ini.

Menurut dia, seluruh aset saat ini dan nantinya adalah tetap milik AP II.

Baca juga: Bandara Kualanamu Diisukan Dijual ke India, Ini Tanggapan dari Angkasa Pura II

"Apa yang dimaksud dengan aset? Kalau pengertiannya adalah tanah, bangunan, dan mesin dalam arti tangible asset, maka tidak ada yang dijual," ujar Rhenald.

Rhenald berpendapat bahwa kemitraan strategis pengelolaan Bandara Kualanamu dengan GMR Airports malah akan menguntungkan AP II.

GMR Airports yang sudah berpengalaman akan investasi di Bandara Kualanamu dengan cara memperbesar fasilitas supaya bisa datangkan keuntungan dari trafik.

"Dan selama 25 tahun berbagi hasil, lalu semuanya akan diserahkan kembali ke Angkasa Pura II," kata dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Rhenald Kasali Nilai Bandara Kualanamu Bisa Saingi Changi dan KLIA "

Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved