Pedagang Pasar Disebut Kena Imbas Kenaikan Inflasi Tertinggi Sejak 2017 

BPS menyatakan terjadi inflasi 4,35 persen secara tahunan di bulan Juni 2022, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,09. 

Penulis: Yanuar R Yovanda
Editor: Choirul Arifin
WARTA KOTA/SERAMBI INDONESIA/HENDRI
Pedagang sembako di Pasar Anyar, Kota Tangerang sedang melayani pembeli di kiosnya, Selasa (7/6/2022). Kenaikan harga pangan saat ini didorong oleh lonjakan harga berbagai komoditas yang menjadi bahan baku utama.  WARTA KOTA/NUR ICHSAN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kenaikan inflasi menjadi 4,35 persen secara tahunan pada Juni 2022 menyebabkan fluktuasi harga pangan dan kebutuhan pokok, yang berimbas langsung terhadap aktivitas perdagangan di pasar tradisional. 

Kenaikan inflasi ini merupakan yang tertinggi sejak Juni 2017 dan menurunkan daya beli masyarakat, sehingga berpengaruh terhadap pendapatan pedagang, terlebih di masa transisi pemulihan ekonomi pasca pandemi. 

"Penurunan daya beli tentu mempengaruhi omzet pedagang. Isu pengenaan PPN 11 persen terhadap sembako juga sempat menjadi sentimen negatif, ditambah lagi daya beli masyarakat belum terlalu pulih pasca pandemi,” ujar Chief Economist BRI Danareksa Sekuritas dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty mengutip keterangannya, Minggu (7/8/2022). 

Dia menilai, kenaikan harga pangan saat ini didorong oleh lonjakan harga berbagai komoditas yang menjadi bahan baku utama. 

"Kenaikan harga menyulitkan konsumen, sehingga mereka mengurangi pembelian. Kenaikan harga pangan dan barang pokok juga berkontribusi terhadap kenaikan inflasi di luar situasi global, yang tidak stabil dalam beberapa bulan terakhir," kata Telisa. 

Baca juga: Inflasi AS Berlanjut, The Fed Diprediksi Akan Kerek Lagi Suku Bunga di Atas 4 Persen

Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan terjadi inflasi 4,35 persen secara tahunan di bulan Juni 2022, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,09. 

Menurut Telisa, inflasi ini terjadi utamanya karena adanya kenaikan harga dengan kontribusi terbesar berasal dari indeks kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yakni sebesar 1,77 persen. 

Baca juga: Perekonomian Inggris Makin Ambles, Inflasi Diprediksi Tembus 15 Persen di Awal 2023

"Adapun, seluruh indeks kelompok pengeluaran lainnya berkontribusi rata-rata di bawah satu persen," tuturnya. 

Karena itu, dampak kenaikan harga kebutuhan pokok dirasakan oleh berbagai pihak baik pelaku di pasar modern maupun pasar tradisional, khususnya masyarakat menengah ke bawah. 

Baca juga: Masuk Zona Merah, Inflasi Turki Melonjak Jadi 79,6 Persen

"Pemerintah telah menggelontorkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun selain itu, upah riil juga perlu terus dijaga agar geliat di pasar tetap muncul dan dapat menopang ekonomi masyarakat dengan baik," pungkas Telisa.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved