Cetak Sejarah, Bank Sentral Eropa Naikkan Suku Bunga 75 Bps, Apa Dampaknya?
Associate Director of Research Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memperkirakan kenaikan 75 bps belum akan menjadi akhir.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Bank Sentral Eropa akhirnya menaikkan tingkat suku bunga dengan jumlah kenaikkan paling bersejarah sebesar 75 basis poin (bps), dari sebelumnya 0,5 persen hingga 0,75 persen, sekarang naik menjadi 1,25 persen hingga 1,5 persen.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memperkirakan kenaikan 75 bps belum akan menjadi akhir.
"Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde yang sekarang sudah bukan Lagarde yang dulu. Lagarde menyatakan akan melakukan hal yang sama di masa depan untuk dapat mengendalikan inflasi yang berada di ketinggian," ujar Nico melalui risetnya, Jumat (9/9/2022).
Seperti diketahui, research Bank Sentral Eropa kemarin membahas mengenai pertumbuhan ekonomi Eropa, yang dimana tentu bisa simpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi diyakini mulai melemah.
Baca juga: Senator AS Khawatir Kenaikan Suku Bunga The Fed Picu Peningkatan Pengangguran
"Namun, kenaikkan harga yang didorong oleh factor supply and demand telah mendorong inflasi mengalami kenaikkan. Alhasil, Bank Sentral Eropa pun tidak ragu untuk mengambil keputusan dengan menaikkan tingkat suku bunganya sebanyak 75 bps, 75 bps ini angka kramat juga lho pemirsa, karena sampai dengan saat ini, sudah ada 40 bank sentral di seluruh dunia yang menaikkan tingkat suku bunganya sebanyak 75 bps," kata Nico.
Menurutnya, pelaku pasar dan investor mulai berspekulasi bahwa Bank Sentral Eropa akan terus menginjak gasnya setidaknya hingga akhir tahun ini hingga inflasi terkendali.
"Sebetulnya, kisah Bank Sentral Eropa ini sama seperti dengan The Fed, yang dimana keduanya di cemooh karena terlalu lambat bereaksi, dan selalu mengatakan bahwa kenaikan inflasi hanyalah sementara. Namun tak dinyana tak disangka, inflasi tetap berada di ketinggian, dan Lagarde mengatakan bahwa tindakan tegas harus diambil," tuturnya.
Selain itu, Bank Sentral Eropa menaikkan proyeksi harga konsumen tahun ini dan tahun depan, di mana Bank Sentral Eropa juga mulai memangkas proyeksi ekonomi pada tahun 2023 mendatang.
Tahun depan, ekonomi di Eropa di proyeksi akan berada di 0,9 persen, di mana level ini masih lebih optimis dibandingkan proyeksi lainnya yang hanya berada di 0,4 persen.
"Inflasi yang berada di ketinggian hingga 9,1 persen, akan terus mendorong Bank Sentral Eropa untuk terus beraksi, karena bukannya apa pemirsa, inflasi sudah berada 4 kali lebih tinggi daripada target Bank Sentral. Apalagi ketidakpastian masalah energi masih menyelimuti Eropa, di mana Rusia masih sangat mungkin untuk menghentikan pasokan gas alam melalui pipa utamanya," ujar Nico.
Baca juga: Gelombang Inflasi Merambah ke Kawasan Asia, Bank Sentral Eropa Rancang Kebijakan Baru
Dia menambahkan, tindakan bank sentral pun mendapatkan dukungan dari Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez yang di mana dirinya mendukung agar pengetatan kebijakan moneter harus dilakukan, namun harus kompatibel dengan pemulihan ekonomi karena krisis biaya hidup saat ini mulai melemahkan permintaan.
Alhasil, proyeksi resesi di Eropa tampaknya terus mengalami peningkatkan, apalagi banyak yang mengatakan bahwa resesi kemungkinan besar akan terjadi pada akhir tahun ini.
Masalahnya adalah, prospek ekonomi Jerman juga mulai terlihat suram, karena Jerman memiliki tingkat ketergantungan dengan energi sangat besar.
Meskipun telah memenuhi fasilitas penyimpanan gas, namun tampaknya masih tidak cukup apabila dikurangi dengan pemakaian waktu musim dingin nanti.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bank-sentral-eropa-ecb_.jpg)