Resesi Ekonomi

IMF: Dunia Sudah Siap Menghadapi Krisis, Bank Sentral Telah Bereaksi dengan Baik

IMF disebut memiliki kapasitas pinjaman sebesar US$1 triliun dan masih memiliki ruang yang luas untuk memberi bantuan kepada para anggotanya.

Chatham House
Ilustrasi logo IMF. IMF melihat sejauh ini bank sentral telah bereaksi dengan cukup baik terhadap tanda-tanda inflasi. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perekonomian dunia pada tahun depan disebut sejumlah pejabat negara terancam terjadi resesi, imbas naiknya harga pangan dan energi yang mendorong meningkatnya inflasi.

Namun, Dana Moneter Internasional (IMF) melihat berbagai negara telah mempersiapkan ekonominya agar bisa bertahan guncangan eksternal.

Direktur pelaksana IMF Kristalina Georgieva, meyakini bahwa dunia saat ini sudah lebih siap dalam menghadapi krisis.

Dalam wawancaranya dengan AFP yang dilansir The Straits Times, Georgieva menjelaskan sejumlah tantangan yang dihadapi ekonomi dunia serta peran IMF dalam mengatasi beragam masalah perekonomian global sejak pandemi Covid-19 melanda.

Baca juga: Hadapi Resesi Global, Maruf Amin Minta Pejabat Beli Produk Lokal, LPS Ungkap 4 Tantangan Perbankan

Sektor Perbankan yang Lebih Kuat

Ketika ditanya apakah krisis ekonomi di tahun 2023 akan lebih buruk dari tahun 2008, Georgieva hanya menegaskan bahwa sektor perbankan global saat ini secara umum sudah lebih kuat.

"Kami juga memiliki sesuatu yang sangat penting, yaitu bank sentral yang lebih kuat, benar-benar mandiri dengan pengalaman yang telah mereka bangun sejak krisis keuangan global," ungkap Georgieva.

Georgieva juga melihat bahwa sejauh ini bank sentral telah bereaksi dengan cukup baik terhadap tanda-tanda inflasi.

IMF Memperluas Jangkauan Pinjaman

Terkait perannya selama gejolak ekonomi yang terjadi, Georgieva menjelaskan bahwa IMF telah memperpanjang pinjaman sekitar US$270 miliar selama satu tahun terakhir sejak pandemi Covid-19.

IMF disebut telah memiliki kapasitas pinjaman sebesar US$1 triliun dan masih memiliki ruang yang luas untuk memberi bantuan kepada para anggotanya.

IMF juga telah memberikan dukungan keuangan kepada 16 negara sejak Rusia menginvasi Ukraina yang nilainya sekitar US$90 miliar.

Saat ini pun mereka masih mengurus sekitar 21 permintaan bantuan lagi.

"Pesan saya untuk negara: bertindak lebih awal. Datanglah kepada kami untuk instrumen kehati-hatian, sehingga Anda dapat membangun posisi di masa yang sangat sulit ini untuk menopang perekonomian Anda dari risiko yang akan datang," kata Georgieva.

Baca juga: Daftar Negara yang Terancam Resesi 2023, Ada Amerika Serikat hingga Rusia

Peran China Sebagai Negara Kreditur Besar

IMF menyebut China memiliki keterlibatan yang sangat substantif sebagai negara kreditur utama.

China juga sedang bekerja sebagai ketua bersama komite kreditur untuk Zambia dan diharapkan bisa memiliki peran yang sama untuk Chad.

"Ada banyak pemberi pinjaman di China. Baru-baru ini, Kementerian Keuangan dan bank sentral, People's Bank of China, mendapat mandat untuk berkoordinasi, dan butuh waktu untuk mencapai koordinasi itu," ungkap Georgieva.

Meskipun demikian, IMF tetap berharap krisis utang tidak berkepanjangan. Pihak China pun berharap masalah seperti ini bisa segera dihindari. (Prihastomo Wahyu Widodo/Kontan)

Sumber: Kontan
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved