Senin, 1 September 2025

Dirut BNI: Era Suku Bunga Rendah Sudah Berakhir

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menyatakan, kondisi perekonomian dunia sedang bergejolak, hingga menimbulkan ancaman

Penulis: Yanuar R Yovanda
Editor: Hendra Gunawan
Dokumentasi BNI
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar (tengah), Wakil Direktur Utama BNI Adi Sulistyowati (kiri) Direktur Finance Novita Widya Anggraini (kanan) usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa 2022 BNI di Menara BNI Pejompongan, Jakarta. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menyatakan, kondisi perekonomian dunia sedang bergejolak, hingga menimbulkan ancaman resesi global.

Direktur Utama (Dirut) BNI Royke Tumilaar mengatakan, volatilitas ekonomi global cukup tinggi akibat sedang menghadapi potensi resesi karena kenaikan suku bunga dan inflasi.

"Untuk itu, perkembangan pertumbuhan bisnis kita juga kita coba untuk sesuaikan dengan kondisi yang ada. Kami juga mengukur kondisi likuiditas kami, melihat bahwa era suku bunga rendah sudah berakhir," ujarnya dalam konferensi pers, Senin (24/10/2022).

Baca juga: BNI Life Gunakan Teknologi AI dan Data Analytics untuk Proses Bisnis 

Menurut dia, sekarang telah masuk ke era suku bunga tinggi, sehingga perseroan mulai jaga likuiditas dengan target Loan to Deposit Ratio (LDR) di bawah 90 persen.

"Kami juga mulai menjaga likuiditas yang coba kita cerminkan dengan target LDR di bawah 90 persen," katanya.

Adapun pada kuartal III 2022, tingkat permodalan perseroan cukup kuat dan likuiditas memadai, sebagaimana tercermin dari Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 18,9 persen dan LDR pada posisi 91,2 persen.

Lebih lanjut, perseroan akan menggenjot pertumbuhan kredit sekonservatif mungkin agar likuiditas terjaga di tengah ancaman resesi global.

"Pertumbuhan kredit kita coba jaga sekonservatif mungkin, sehingga kami yakin likuiditas kredit dan permodalan masih cukup aman untuk BNI di dalam situasi krisis global sekarang ini. Kita tetap akan menyalurkan kredit secara hati-hati dan konservatif, sehingga kami juga yakin bisa kendalikan NPL," pungkas Royke.

Sekadar informasi, pertumbuhan kredit BNI mencapai 9,1 persen secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 622,61 triliun pada kuartal III 2022.

Baca juga: Cara Buka Rekening BNI Secara Online: Siapkan KTP dan Dana Setoran Awal

Perseroan fokus pada segmen berisiko rendah, debitur top tier di setiap sektor industri prospektif, serta regional champion di masing-masing daerah.

Sebagai penopang pertumbuhan kredit, BNI mengandalkan pendanaan terutama dari Current Account Savings Account (CASA) yakni tabungan dan giro, di mana rasio CASA mencapai 70,9 persen dari total Dana Pihak Ketiga (DPK).

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan