BI Kembali Naikkan Suku Bunga, Analis Ungkap Jenis Instrumen Investasi yang Cocok Buat Investor

Ibrahim Assuaibi mengatakan, pilihan instrumen investasi saat ini adalah produk obligasi, Surat Berharga Negara (SBN), dan deposito.

Istimewa
Ilustrasi investasi. BI menetapkan kebijakan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) menjadi 5,25 persen pada November 2022. Investor bisa mencermati adanya tren kenaikan suku bunga menjadi dasar untuk mengolah portfolio investasi. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) dalam beberapa bulan terakhir terlihat agresif meningkatkan suku bunga acuan.

BI menetapkan kebijakan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) menjadi 5,25 persen pada November 2022.

Awalnya, Bank Sentral sempat menahan suku bunga di angka 3,50 persen.

Baca juga: Suku Bunga Acuan Bank Indonesia Naik Lagi, Bagaimana Dampaknya Terhadap Bunga Kredit?

Lantaran ada kenaikkan inflasi nasional yang cukup tinggi, BI akhirnya memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan dalam kurun waktu 4 bulan berturut-turut.

Dibalik hal ini, investor bisa juga mencermati adanya tren kenaikan suku bunga menjadi dasar untuk mengolah portfolio investasi.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pilihan instrumen investasi saat ini adalah produk obligasi, Surat Berharga Negara (SBN), dan deposito.

"Instrumen investasi obligasi cukup menarik dengan adanya kenaikan suku bunga 5,25 persen. Ini membuat deposito juga cukup menarik, sama halnya SBN pun juga cukup menarik," ucap Ibrahim kepada Tribunnews.com, Jumat (18/11/2022).

Baca juga: BREAKING NEWS - Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan 0,50 Poin, Kini Jadi 5,25 persen

"Jika diurutkan, untuk instrumen investasi yang paling menarik adalah obligasi, SBN, kemudian deposito, dan terakhir saham," sambungnya.

Sebagai informasi, obligasi adalah bukti pinjaman atau utang yang diberikan oleh investor kepada penerbit obligasi. Obligasi bisa diterbitkan oleh perusahaan ataupun pemerintah.

Adanya penerbitan obligasi antara lain bertujuan untuk pendanaan dan pengembangan.

Ibrahim membeberkan alasan instrumen obligasi dinilai cukup menarik di saat BI 7-Day Reverse Repo Rate terus mengalami peningkatan.
Obligasi dinilai Fixed income alias atau pendapatan tetap yang investor peroleh dari hasil penanaman modal dalam periode tertentu.

"Obligasi yang dikeluarkan oleh Pemerintah ataupun swasta itu fixed income. Artinya apa, bisa saja per 3 bulan atau per 6 bulan suku bunganya relatif menarik," papar Ibrahim.

"Barulah kemudian instrumen investasi yang baik adalah deposito. Deposito juga cukup menarik karena dengan adanya kenaikan suku bunga berarti suku bunga deposito pun juga mengalami kenaikan," pungkas Ibrahim.

Baca juga: IHSG Menghijau Naik ke 7.044, Ikuti Kenaikan Suku Bunga Acuan

Sementara itu, Analis DCFX Futures, Lukman Leong mengungkapkan, instrumen investasi saham juga dinilai cukup menarik.

Utamanya saham Blue Chip, alias saham lapis dari perusahaan besar yang labanya sudah stabil. Saham blue chip menjadi saham yang direkomendasikan untuk dikoleksi oleh investor. 

"Peluang yang sedang diincar investor sekarang adalah saham Blue Chip luar negeri, terutama saham teknologi AS maupun China yang sudah turun sangat tajam," ucap Lukman kepada Tribunnews.

"Dengan perkiraan apabila bank sentral dunia, terutama the Fed akan mulai lebih lembut dalam kebijakan suku bunga, tahun depan di kuartal 1 diperkiran bursa di AS maupun global akan mulai rebound, dan saham teknologi akan memimpin kenaikan," pungkasnya. 

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved