Virus Corona
Konsumen China Kini Hidup Lebih Hemat Pasca Pelonggaran Covid-19
Warga China kini mengubah gaya hodup mereka dengan menghindari pemborosan pengeluaran setelah Pemerintah China melonggarkan kebijakan nol-Covid
Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni
TRIBUNNEWS.COM, BEIJING - Warga China kini mengubah gaya hidup mereka dengan menghindari pemborosan pengeluaran setelah Pemerintah China melonggarkan kebijakan nol-Covid yang ketat.
Seorang warga China, Jorry Fan, yang tinggal di Kota Suzhou mengatakan dia harus membatalkan rencana untuk makan di luar dalam beberapa minggu mendatang.
Wanita berusia 44 tahun itu menghindari makan di luar rumah atau tempat ramai dan memilih menggunakan jasa pengiriman makanan, karena khawatir dia atau keluarganya dapat tertular virus corona setelah China melonggarkan persyaratan pengujian Covid-19 dan aturan karantina.
“Saya sangat senang karena sebelumnya saya harus melakukan tes asam nukleat hampir setiap hari, jadi ini lebih nyaman. Di sisi lain, kami tidak tahu siapa yang aman, kami tidak tahu siapa yang terjangkit virus corona. Jadi kami akan lebih berhati-hati," kata ibu dua anak itu, yang dikutip dari Reuters.
Konsumen seperti Fan menunjukkan mengapa analis tidak mengharapkan pemulihan yang cepat dan luas dalam pengeluaran di ekonomi terbesar kedua di dunia, karena kegembiraan menyambut pelonggaran harus diimbangi dengan ketidakpastian bagi konsumen dan bisnis.
Secara teori, prospek perusahaan makanan cepat saji seperti McDonald's Corp, Starbucks Corp, Yum China dan perusahaan produsen barang mewah seperti LVMH terlihat cerah, setelah kebijakan nol-Covid yang melemahkan penjualan dilonggarkan.
Namun, pelonggaran diperkirakan akan mengantarkan gelombang kasus baru Covid-19 yang menurut para ahli dapat mencapai 60 persen dari populasi 1,4 miliar jiwa penduduk China.
Baca juga: China Tindak Penyelewengan Harga Obat di Tengah Kekhawatiran Lonjakan Kasus Covid-19
Proyeksi tersebut menimbulkan ketakutan masyarakat di negara itu, dengan banyak orang keluar di jalanan sambil mengancam akan mengganggu tempat kerja dan rantai pasokan.
Pengeluaran konsumen China juga cenderung terhambat oleh kekhawatiran yang terus-menerus tumbuh atas keamanan pekerjaan dan ekonomi yang melambat.
Beberapa ekonom telah memangkas perkiraan pertumbuhan China untuk awal tahun depan, yang tampaknya akan melanjutkan angka pertumbuhan suram di tahun ini yang berada di antara rekor terburuk dalam setengah abad terakhir.
Baca juga: Pengusaha di China Waspadai Munculnya Gelombang Infeksi Baru Covid-19 Usai Pelonggaran Pembatasan
"Perpindahan dari karantina fasilitas isolasi ke karantina rumah tidak akan meningkatkan penjualan ritel secara signifikan," kata kepala ekonom untuk Tiongkok Raya di ING, Iris Pang.
Pelonggaran juga diterapkan secara berbeda di berbagai daerah, karena beberapa masih mempertahankan pembatasan Covid-19.
Di Kota Shanghai misalnya, orang tidak perlu menunjukkan hasil tes Covid-19 yang negatif untuk memasuki restoran sejak Jumat (9/12/2022), tetapi aturan tersebut tetap berlaku bagi mereka yang berada di kota Beijing.
Baca juga: Perdagangan China Anjlok ke Level Terendah Sejak 2020 di Tengah Pembatasan Covid
Meskipun beberapa firma analitik melaporkan lonjakan pemesanan penerbangan domestik dan tiket film, namun pergerakan tersebut berbenturan dengan pemandangan kursi kereta bawah tanah yang kosong pada jam sibuk di kota-kota besar seperti Beijing dan Shanghai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/supermarket-kota-shanghai.jpg)