Bahas Soal Bunga Utang Proyek Kereta Cepat, Menko Luhut dan Bos KAI Mau Terbang ke China
Seperti diberitakan sebelumnya, biaya pengerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung mengalami pembengkakan biaya, alias Cost Overrun.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakill Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan, sejumlah perwakilan Pemerintah Indonesia segera terbang ke China untuk membahas negosiasi bunga pinjaman dengan China Development Bank (CDB) untuk proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung.
Perwakilan yang dimaksud antara lain adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan beserta para Direksi PT KAI dan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Baca juga: KCIC Minta Perpanjangan Masa Konsesi Kereta Cepat Jakarta-Bandung dari 50 Tahun Menjadi 80 Tahun
"Kita minggu ini kan tim Pak Luhut dan Dirut KAI, Dirut KCIC ke China untuk negosiasi final mengenai pricing, belum selesai," ungkap pria yang akrab disapa Tiko saat ditemui di Gedung Parlemen Jakarta, (3/4/2023).
"Kita lagi tawar (bunga interest) di 2 persen tapi belum tahu dapetnya berapa," sambungnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, biaya pengerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung mengalami pembengkakan biaya, alias Cost Overrun.
Berdasarkan hitung-hitungan, pembengkakan ditaksir 1,2 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Angka tersebut setara dengan Rp18,29 triliun (asumsi kurs Rp15.242 per dolar AS).
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menegaskan, bengkaknya nilai tersebut bukan disebabkan adanya praktik korupsi di dalamnya.
Melainkan adanya pembengkakan biaya di berbagai komponen.
Diketahui, pada saat Covid-19 mengalami peningkatan kasus, rantai pasok sejumlah komoditas turut terdampak. Dan juga mempengaruhi harga-harga material.
Baca juga: Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bengkak Rp18 Triliun, Pemerintah Cari Utang Rp8 Triliun ke China
"Jangan diputar balikan juga seakan-akan cost overrun ada korupsinya. Ingat, apapun yang terjadi pada saat Covid-19, itu kan tetap pembangunan harus dijalankan, itu tidak bisa maksimal, dan pasti sudah ada cost (yang bengkak)," ucap Erick saat ditemui di Gedung Parlemen Jakarta, (13/2/2023).
"Lalu pada saat Covid-19, supply chain juga terganggu. Artinya harga-harga komoditas tinggi, termasuk besi. Nah itu ada masuk di komponen costoverrun," lanjutnya.
Sementara itu Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, agar proyek tersebut dapat berjalan lancar ke depannya, Pemerintah berencana mencari sumber pembiayaan proyek melalui utang.
Terkait nilainya sekitar 550 juta dolar AS, atau setara Rp8,37 triliun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pembangunan-flyover-dan-jpo-ciroyom_20230208_194837.jpg)