Sabtu, 30 Agustus 2025

Indonesia Kini Berpenghasilan Menengah Atas, Tapi Masih Tempati Peringkat 5 di ASEAN

Indonesia telah menjadi kelompok negara berpenghasilan nasional bruto per kapita dengan kategori menengah ke atas.

Editor: Hendra Gunawan
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
Suasana gedung bertingkat dilihat dari ketinggian di kawasan Sudirman, Jakarta Pusa. Indonesia telah menjadi kelompok negara berpenghasilan nasional bruto per kapita dengan kategori menengah ke atas. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia telah menjadi kelompok negara berpenghasilan nasional bruto per kapita dengan kategori menengah ke atas.

Capaian tersebut diperoleh sejak 2022 lalu, setelah bekerja keras melawan pandemi dan resesi yang melanda dunia.

Berdasarkan data yang diumumkan pada awal Juli lalu, Gross National Incone (GNI) per kapita Indonesia pada 2022 sebesar 4.580 dollar AS.

Baca juga: Bank Dunia Kerek Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Asia Timur Jadi 5,1 Persen di 2023

Nilai ini meningkat sekitar 9,8 persen dari tahun sebelumnya sebesar 4.170 dollar AS. Dengan kenaikan tersebut, Indonesia kembali masuk ke dalam daftar negara berpendapatan menengah atas, setelah sempat terdepak dari daftar tersebut pada 2020, imbas dari pandemi Covid-19.

Lalu bagaimana posisi pendapatan per kapita Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara satu kawasan ASEAN? Meskipun dinyatakan naik kelas, GNI per kapita Indonesia masih tertinggal dari sejumlah negara tetangga yang tergabung ke dalam ASEAN.

Indonesia menempati peringkat ke-5 dengan GNI per kapita terbesar dari 11 negara yang tergabung dalam organisasi negara Asia Tenggara itu.

Singapura masih menjadi negara dengan GNI per kapita tertinggi di ASEAN.

GNI per kapita negara yang masuk dalam kategori negara pendapatan tinggi ini mencapai 67.200 dollar AS pada tahun lalu.

Kemudian Brunei Darussalam berada di posisi kedua dengan GNI per kapita 31.410 dollar AS. Adapun posisi ketiga dan keempat adalaha Malaysia dan Thailand dengan GNI per kapita masing-masing 11.780 dollar AS dan 7.230 dollar AS.

Setelah itu barulah Indonesia berada di posisi kelima, lebih tinggi dari 6 anggota ASEAN lain, mulai dari Vietnam hingga Myanmar, yang masuk dalam daftar negara pendapatan menengah ke bawah.

Baca juga: Presiden AS Calonkan Eks Bos Mastercard Ajay Banga Jadi Kepala Bank Dunia

Daftar lengkap GNI per kapita 2022 di ASEAN diurutkan dari yang paling tinggi sebagai berikut:

1. Singapura: 67.200 dollar AS (negara pendapatan tinggi)

2. Brunei Darussalam: 31.410 dollar AS (negara pendapatan tinggi)

3. Malaysia: 11.780 dollar AS (negara pendapatan menengah atas)

4. Thailand: 7.230 dollar AS (negara pendapatan menengah atas)

5. Indonesia: 4.580 dollar AS (negara pendapatan menengah atas)

6. Vietnam: 4.010 dollar AS (negara pendapatan menengah bawah)

7. Filipina: 3.950 dollar AS (negara pendapatan menengah bawah)

8. Laos: 2.360 dollar AS (negara pendapatan menengah bawah)

9. Timor Leste: 1.970 dollar AS (negara pendapatan menengah bawah)

10. Kamboja: 1.700 dollar AS (negara pendapatan menengah bawah)

11. Myanmar: 1.210 dollar AS (negara pendapatan menengah bawah)

Sempat turun

Indonesia sendiri sebenarnya sempat menjadi negara berpendapatan menengah ke atas pada 2019, dengan pendapatan per kapita mencapai 4.050 dollar AS.

Namun, Indonesia harus terdepak dari kelompok tersebut ketika pandemi Covid-19 merebak, dengan pendapatan per kapita tergerus ke 3.870 dollar AS.

Pemulihan ekonomi yang cepat Dengan sudah kembali masuknya ke daftar kelompok negara berpendapatan menengah pada 2022, Presiden Joko Widodo menilai, Indonesia membukukan pemulihan ekonomi yang pesat.

Di tengah ketidakpastian global, Indonesia mampu membukukan pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5 persen selama 6 kuartal berturut-turut.

"Ini proses pemulihan yang cepat setelah kita turun ke grup lower middle income countries di tahun 2020 karena pandemi,” kata Presiden Jokowi saat membuka Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (3/7/2023).

Baca juga: Inflasi Juni Terkendali Jaga Kepercayaan Investor Terhadap Ekonomi Indonesia

Pernyataan tersebut diamini oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu.

Ia mengatakan, kembalinya Indonesia ke kelompok negara berpendapatan menengah atas tidak terlepas dari efektivitas penanganan pandemi, pelaksanaan Program Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN), serta transformasi ekonomi melalui hilirisasi sumber daya alam (SDA).

Berbagai instrumen APBN melalui program PC-PEN 2020-2022 disebut berperan penting dalam memberikan bantalan kebijakan di masa krisis pandemi serta mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

Di sisi lain, dampak signifikan kebijakan hilirisasi SDA telah mendongkrak kinerja ekspor dan memperkuat keseimbangan eksternal Indonesia.

"Indonesia menjadi salah satu dari sedikit negara di dunia yang mampu pulih cepat dan kuat," kata Febrio, dalam keterangannya.

Kian dipercaya masyarakat global

Masuknya Indonesia ke dalam kategori negara berpendapatan menengah ke atas juga memberikan sejumlah dampak positif bagi perekonomian Tanah Air.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, salah satu dampak positifnya ialah Indonesia semakin dipercaya oleh global.

Pasalnya, predikat negara berpendapatan menengah atas menunjukkan kondisi perekonomian yang tumbuh berkelanjutan dan semakin besar. Dengan demikian, hal itu dapat menarik minat investor ke Tanah Air.

"Kemarin saya ketemu dengan banyak investor dan stakeholders mereka punya keinginan dan bahkan berharap Indonesia itu menjadi salah satu negara dengan kinerja ekonomi bagus," ujar Sri Mulyani, di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (4/7/2023).

Sri Mulyani menampik pandangan masuknya Indonesia ke kelompok negara berpendapatan menengah ke atas akan mempersulit akses pembiayaan pemerintah.

Menurutnya, pemerintah dinilai akan semakin mudah mengakses pembiayaan, utamanya berasal dari penerbitan obligasi.

"Jadi investor menghargai value surat berharga kita, jadi tidak ada pengaruhnya," katanya. (Kompas.com/Tribunnews.com)

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan