Mahasiswa UI Tewas di Kamar Kos
Mahasiswa UI Rugi Rp80 Juta Akibat Kripto hingga Menyebabkan Pembunuhan, Ini Respon OJK
Pemerintah terus meningkatkan nilai literasi keuangan digital melalui kolaborasi dengan semua pihak hingga perguruan tinggi.
Laporan wartawan Tribunnews.com, Nitis Hawaroh
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala departemen Literasi Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK, Aman Santosa menyatakan, literasi keuangan digital ditengah masyarakat masih terjadi gap bahkan nilainya kian menurun dari tahun 2013.
Menurut Aman, pemerintah terus meningkatkan nilai literasi keuangan digital melalui kolaborasi dengan semua pihak hingga perguruan tinggi.
Hal itu dikatakan Aman menanggapi kasus Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang terjerat kripto dan mengalami kerugian Rp 80 juta hingga berujung dibui.
Baca juga: Kamar Menjadi Misterius, Teman Pembunuh Mahasiswa UI Ketakutan Sendiri, Bakalan Pindah Kontrakan
"Jadi prinsipnya ini memang upaya literasi ini terus ditingkatkan. Karena memang masih ada gap antara literasi keuangan dan inklusi keuangan," ujar Aman saat temui di CSIS Jakarta, Selasa (8/8/2023).
"Tapi dari tahun ke tahun ini selalu menurun dari 2013, 2019, 2022 itu kan gapnya menurun sekarang tinggal 30 persenan. Tadinya lebih dari 30 persen, untuk literasi dan inklusi," imbuhnya.
Aman bilang, mahasiswa sebagai kelompok terpelajar sedianya memiliki pemahaman yang baik khususnya mengenai literasi keuangan digital.
"Saya yakin mereka sebenarnya juga sudah paham dan ngerti hanya memang mungkin ada case-cae khusus atau penyebab khusus yang kemudian dia terpaksa terjebak dalam kasus ini," jelasnya.
Terakhir dia bilang, kasus kerugian kripto ini bisa saja terjadi tak hanya dikalangan mahasiswa. Namun, dia menegaskan bahwa sedianya masyarakat memilih aplikasi keuangan digital yang legal.
"Kasus ini memang bisa terjadi dimana saja bisa dikalangan mahasiswa, guru, petani bisa dimana saja. Jadi intinya tetep kita himbau supaya masyarakat tetep pakai legal berfikir secara logis," ungkapnya.
Asal tahu saja, utang piutang menjadi motif pembunuhan yang dilakukan oleh mahasiswa UI inisial AAB (23) terhadap adik tingkatnya MNZ (19).
Untuk informasi, pelaku dan korban ini tercatat sebagi mahasiswa Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Rusia.
Wakasat Reskrim Polres Metro Depok, AKP Nirwan Pohan, mengatakan, pelaku memiliki hutang hingga jutaan rupiah akibat gagal investasi Crypto.
"Hutang pelaku ini Rp 80 juta. Pelaku ini main kripto, kemudian kalah dan utang sini uutang sana," ujar Nirwan saat memimpin ungkap kasusnya di Polres Metro Depok, Sabtu (5/8/2023).
Lebih lanjut, Nirwan mengatakan pelaku juga sedianya iri dengan korban. Pasalnya, korban juga bermain kripto namun meraih kesuksesan, berbeda dengan nasib yang dialami pelaku.
Menyoal utang piutang ini juga diakui langsung oleh pelaku.
"Utang saya cuma Rp 15 juta, total kerugian saya Rp80 juta di aset kripto saya," ungkapnya saat dihadirkan dalam ungkap kasusnya.
"Nah Rp 15 juta itu saya utang ke teman saya sama pinjol (pinjaman online)," timpalnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/altafasalya-ardnika-basya-pembunuh-mahasiswa-universitas-indonesia-ui.jpg)