Kamis, 14 Mei 2026

Gejolak Rupiah

BYD Khawatir Pelemahan Rupiah Tekan Daya Beli Masyarakat Terhadap Mobil

Tekanan ekonomi global saat ini tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga banyak negara lain akibat tensi geopolitik dunia.

Tayang:
Tribunnews.com/Lita Febriani
DAYA BELI MASYARAKAT - Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther T. Panjaitan. Kebijakan pemerintah yang mendorong peningkatan TKDN dan produksi lokal dinilai dapat membantu menahan dampak pelemahan rupiah terhadap industri otomotif dalam jangka pendek. 

Ringkasan Berita:
  • BYD khawatir pelemahan rupiah hingga Rp17.500 per dolar AS dapat menekan daya beli konsumen otomotif.
  • Perusahaan menilai ancaman utama industri saat ini adalah kemampuan masyarakat membeli kendaraan, bukan jenis teknologinya.
  • BYD menyebut kebijakan TKDN dan produksi lokal bisa membantu menahan dampak pelemahan rupiah dalam jangka pendek.
 

 

TRIBUNNEWS.COM, BOGOR - Nilai tukar rupiah telah menembus level Rp 17.500 per dolar AS  di tengah meningkatnya tekanan global dan ketegangan geopolitik.

Pelemahan mata uang Garuda tersebut mulai memunculkan kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat dan dampaknya terhadap industri otomotif nasional.

Head of Public and Government Relations BYD Motor Indonesia Luther T. Panjaitan mengatakan pihaknya berharap gejolak ekonomi tidak sampai menekan konsumsi masyarakat.

Baca juga: BYD Buka Suara soal Potensi Kenaikan Harga Mobil Imbas Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS

Menurutnya, isu utama bagi industri otomotif saat ini bukan hanya terkait kendaraan listrik atau kendaraan berbasis mesin pembakaran internal (ICE), melainkan kemampuan daya beli konsumen.

"Tentunya yang kita sangat harapkan adalah jangan sampai terjadi satu dampak kepada daya beli. Karena daya beli ini penting buat kita sebagai industri otomotif, karena ini menentukan appetite dari kustomer untuk membeli kendaraan. Jadi sudah tidak bicara lagi EV, bicara ICE atau Hybrid, tapi kalau daya beli yang terpukul, tentunya secara keseluruhan dari industri," tutur Luther kepada Wartawan di Bogor, Jawa Barat, Rabu (13/5/2026).

Luther menilai tekanan ekonomi global saat ini tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga banyak negara lain akibat tensi geopolitik dunia.

Oleh karena itu, meski gejolak geopolitik dan ekonomi terjadi di seluruh dunia, BYD Indonesia berharap dampaknya terhadap pasar domestik tidak terlalu besar.

"Mudah-mudahan segera ada jalan keluar terhadap situasi dan pergolakan ekonomi. Kami mengerti bahwa ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di banyak negara dan ini adalah ketegangan dari geopolitik yang terjadi. Dampaknya kita memahami dan kita hanya bisa berharap semoga kita tidak terlalu terdampak cukup signifikan," ucapnya.

Saat ditanya kemungkinan kenaikan harga kendaraan akibat pelemahan rupiah, Luther menilai masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat komponen-komponen yang didatangkan secara impor dalam struktur produksi kendaraan.

"Saya rasa masih terlalu dini berasumsi terhadap harga (jual kendaraan), walaupun memang kalau dilihat struktur komponen pembentuk produksi kendaraan, ada, masih tetap ada yang berbasis impor," ujar Luther.

Terkait potensi penyesuaian harga kendaraan dalam jangka lebih panjang, Luther kembali menegaskan bahwa situasi saat ini masih terlalu dini untuk dipastikan.

"Masih terlalu dini untuk berasumsi, namun mudah-mudahan tidak terjadi hal-hal yang tidak kita ekspektasi-lah," katanya.

Ia menambahkan, kebijakan pemerintah yang mendorong peningkatan TKDN dan produksi lokal dinilai dapat membantu menahan dampak pelemahan rupiah terhadap industri otomotif dalam jangka pendek.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved