Kamis, 18 Juni 2026

Ancaman Digital Sektor Finansial Naik, Diperlukan Integrasi Audit Internal hingga Manajemen Risiko

Kejahatan digital kerap dilakukan oleh sindikat terorganisir, di mana prosesnya tidak terjadi secara instan.

Tayang:
Penulis: Sanusi
Freepik
ILUSTRASI HACKER - Serangan siber terus berkembang, dan respons masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan teknologi semata. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Managing Partner Governance Risk Control & Technology Consulting RSM Indonesia Angela Simatupang, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap kejahatan digital yang semakin kompleks dan personal.

RSM Indonesia adalah akuntan publik dan konsultan terkemuka di Indonesia, yang menyediakan layanan audit, perpajakan, dan konsultasi. RSM Indonesia adalah bagian dari jaringan global RSM International, yang memiliki lebih dari 830 kantor di 120 negara.

“Digital fraud bukan ancaman masa depan, melainkan realitas hari ini. Serangan terus berkembang, dan respons kita tidak bisa hanya mengandalkan teknologi semata. Diperlukan integrasi antara audit internal, manajemen risiko, dan fungsi teknologi dalam membangun sistem pertahanan yang berkelanjutan,” ujar Angela di forum diskusi bertajuk “Digital Fraud is Here: Strengthening Bank Defenses Through Integrated Governance and Technology”.

Baca juga: Bahas Keamanan Siber Nasional, NCC 2025 Libatkan GP Ansor

Forum diskusi yang digelar Ikatan Auditor Intern Bank (IAIB) bersama RSM Indonesia pada Kamis (31/7/2025), tersebut membahas meningkatnya ancaman kejahatan digital di sektor jasa keuangan dan perlunya pendekatan kolaboratif dalam menghadapinya.

Forum ini menjadi wake-up call bagi pelaku industri keuangan untuk menyadari bahwa sektor finansial kini menjadi target utama serangan digital.

Partner Governance Risk Control Consulting RSM Indonesia GMB Daniel Probo sebagai salah satu narasumber menjelaskan tiga tren utama risiko fraud di sektor jasa keuangan yakni serangan terhadap new account creation, logins, dan payment systems. Daniel menekankan pentingnya penerapan kerangka tata kelola dan pemantauan terintegrasi untuk memperkuat pencegahan dan deteksi.

“Governance framework dan sistem monitoring terintegrasi perlu dibangun secara menyeluruh melalui empat langkah utama: menetapkan peran, akuntabilitas, dan pengambilan keputusan yang jelas; mengintegrasikan manajemen risiko fraud ke dalam proses bisnis; menstandarkan kebijakan serta menyelaraskan kontrol; serta memastikan auditabilitas dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku” jelas Daniel.

“Mencermati digital fraud ini penting untuk know your enemy, sense atas risikonya, pahami perkembangan teknologi terkini, dan telusuri akar masalahnya. Semua ini bisa dicapai dengan pengetahuan yang tepat dan terus diperbarui,” lanjutnya.

Sementara itu, narasumber lainnya yakni Partner Technology Consulting RSM Indonesia Kemal Alfadin menyampaikan gambaran skenario umum kejahatan digital finansial yang dilakukan oleh sindikat melalui empat tahapan: kolaborasi, penciptaan identitas palsu, pemanfaatan akun, dan penarikan besar-besaran (bust-out).

Dalam praktiknya, kejahatan digital kerap dilakukan oleh sindikat terorganisir. Prosesnya tidak terjadi secara instan, namun berlangsung melalui tahapan-tahapan yang sistematis, yakni pertama, kolaborasi, di mana beberapa individu bersepakat membentuk fraud ring, dengan saling berbagi atau memperjualbelikan informasi pribadi. 

"Kedua, pembuatan identitas palsu. Ketiga, pemanfaatan akun. Dan keempat Bust-Out  atau penarikan besar-besaran yakni setelah mendapatkan limit besar, para pelaku kemudian mencairkan seluruh fasilitas pinjaman secara maksimal, lalu menghilang tanpa jejak,” jelas Kemal.

“Setiap tindakan fraud kini jauh lebih canggih, dan selalu berevolusi. Untuk mencegahnya, diperlukan pendekatan lintas fungsi,” pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved