Trump Terapkan Tarif Timbal Balik
Ekonom Steve Hanke: Trump Sedang Hancurkan Dirinya Sendiri dengan Perang Tarif
Aturan tarif impor baru yang diterapkan Donald Trump dinilai omong kosong dan hanya bertumpu pada pasir dengan analisis ekonomi yang keliru.
Penulis:
Lita Febriani
Editor:
Choirul Arifin
TRIBUNNEWS.COM - Ekonom Amerika Serikat dan Profesor Universitas Johns Hopkins Steve Hanke, menilai kebijakan tarif impor baru yang diterapkan Presiden AS Donald Trump akan "menghancurkan dirinya sendiri".
Hanke menyatakan, aturan tarif impor baru benar-benar omong kosong dan hanya bertumpu pada pasir dengan analisis ekonomi yang keliru.
Keputusannya itu memicu ketegangan AS dengan India dengan menaikkan tarif impor atas produk dari India menjadi 50 persen.
Trump melakukan itu sebagai strategi menekan ekonomi Rusia, sebab New Delhi mengimpor minyak dari negara Beruang Merah. Tarif impor 50 persen juga diberlakukan AS terhadap Brasil.
"Hal utama adalah mengikuti nasihat Napoleon - dia berkata untuk tidak pernah mencampuri musuh dalam proses menghancurkan diri sendiri. Saya pikir Trump sedang menghancurkan dirinya sendiri," kata Hanke.
Hanke menyampaikan, Perdana Menteri Narendra Modi dan Menteri Luar Negeri S. Jaishankar seharusnya merahasiakan rencana mereka dan menunggu sebentar.
"Alasan saya mengatakan itu adalah karena saya pikir rumah kartu Trump akan runtuh. Gejolak ekonomi akibat tarif hanya berdiam diri," tambahnya.
Profesor Hanke mengklaim terdapat defisit perdagangan yang sangat besar di AS karena pengeluaran Amerika lebih besar daripada produk nasional bruto.
"Jadi, ekonominya salah total. Ekonomi tarif Trump benar-benar omong kosong," ungkapnya dikutip dari NDTV.
Prof Steve H. Hanke dikenal sebagai profesor ekonomi terapan dan pendiri sekaligus salah satu direktur Institute for Applied Economics, Global Health, and the Study of Business Enterprise di Johns Hopkins University di Baltimore.
Hanke adalah peneliti senior di Independent Institute di Oakland, California dan penasihat senior di International Monetary Research Institute, Renmin University of China, Beijing, serta penasihat khusus di Center for Financial Stability di New York.
Baca juga: Kremlin Setuju Putin dan Trump Berunding di Alaska Jumat Pekan Depan
Hanke juga merupakan editor kontributor di Central Banking, London, dan kontributor di National Review. Hanke juga menjadi anggota Charter Council dari Society for Economic Measurement.
Baik Rusia maupun Tiongkok, telah mengecam Trump karena memberikan tekanan perdagangan ilegal terhadap India.
"Kami mendengar banyak pernyataan yang sebenarnya merupakan ancaman, upaya untuk memaksa negara-negara memutuskan hubungan dagang dengan Rusia. Kami tidak menganggap pernyataan tersebut sah," ujar Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov.
Baca juga: Trump Tolak Negosiasi Lanjutan dengan India Soal Tarif Impor 50 Persen
Duta Besar Tiongkok untuk India Xu Feihong, menyindir Trump dengan mengatakan jika mengganggu Trump dia akan bertindak lebih banyak untuk mengganggu musuh.
"Beri si pengganggu sedikit saja, dia akan mengambil satu mil. Menggunakan tarif sebagai senjata untuk menekan negara lain melanggar Piagam PBB, melemahkan aturan WTO dan tidak populer serta tidak berkelanjutan," kata Feihong.
Sumber: NDTV
Trump Terapkan Tarif Timbal Balik
Trump Resmi Perpanjang Gencatan Tarif Dagang dengan China 90 Hari |
---|
AS dan Tiongkok Memperpanjang Batas Waktu 'Gencatan Senjata' Perdagangan |
---|
Boncos, Bonus yang Diterima Pekerja Otomotif AS Terancam Merosot karena Tarif Impor Trump |
---|
Balas Sanksi Trump, Warga India Ramai-Ramai Boikot Produk Buatan AS |
---|
Nego Tarif Memanas, Trump Tuntut China Tingkatkan Pembelian Kedelai dari AS hingga 4 Kali Lipat |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.