Garuda Indonesia Laporkan Keuangan, DPR Soroti Kinerja Pascarestrukturisasi
Garuda lapor ke DPR: pendapatan naik, efisiensi dipertanyakan, pemulihan pascarestrukturisasi dinilai belum berdampak ke publik.
Ringkasan Utama
Garuda Indonesia melaporkan kinerja keuangan dan operasional ke DPR, mencatat tren pemulihan pascarestrukturisasi. Meski ada capaian positif, sejumlah anggota dewan menyoroti efisiensi, margin keuntungan, dan dampak nyata ke publik.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk melaporkan kondisi keuangan dan operasional perusahaan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Senin (22/9/2025). Laporan ini menjadi sorotan publik karena mencerminkan arah pemulihan pascarestrukturisasi yang dijalankan sejak pandemi.
Direktur Niaga Garuda Indonesia, Reza Aulia Hakim, menyampaikan bahwa pendapatan operasional pada semester I 2025 mencapai US$1,07 miliar, dengan EBITDA sebesar US$250 juta.
“Kenaikan ini sejalan dengan pertumbuhan operasional yang solid. Meskipun biaya operasional meningkat, pendapatan juga ikut naik. Ini mencerminkan penguatan fundamental keuangan perusahaan," kata Reza dalam rapat.
Selain aspek keuangan, Garuda juga melaporkan indikator operasional lainnya. Seat Load Factor (SLF) tercatat 78 persen, naik dari periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah penumpang hingga Juni 2025 mencapai 5,4 juta, bertambah 104 ribu dibanding tahun lalu.
Penambahan armada menjadi salah satu faktor pendukung, dengan total pesawat mencapai 78 unit per Agustus 2025, naik 10 unit dibanding 2022.
Garuda juga mencatat peningkatan On-Time Performance (OTP) sebesar 2,36 persen menjadi 86,02 persen. Pada Mei 2025, maskapai ini bahkan meraih OTP terbaik dunia versi OAG Flightview. Untuk penerbangan haji 2025/1446 H, OTP rata-rata mencapai 96,2 persen—angka tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Baca juga: Menkeu Purbaya Bakal Sikat Oknum Bea Cukai yang Terlibat Peredaran Rokok Ilegal
Meski menunjukkan tren positif, Reza menegaskan bahwa proses pemulihan masih panjang. Ia menyebut dukungan dari DPR, pemerintah, dan pemangku kepentingan sebagai faktor penting dalam menjaga momentum.
“Kami terus melakukan penyesuaian strategis, termasuk penambahan armada, optimalisasi rute, dan transformasi bisnis. Tujuannya agar Garuda bisa tumbuh berkelanjutan dan tetap relevan sebagai maskapai nasional,” ujar Reza.
Namun, sejumlah anggota Komisi VI DPR RI menyampaikan kritik terhadap laporan tersebut.
I Nengah Senantara mengingatkan agar capaian yang dipaparkan tidak hanya manis dalam presentasi, tetapi benar-benar tercapai agar kerugian tidak berulang.
“Di tengah kerugian Garuda yang begitu besar, rupanya presentasi bapak-bapak sekalian cukup membawa angin segar. Tapi kami harap ini tidak hanya manis dalam penuturan, melainkan benar-benar tercapai,” ujar I Nengah Senantara.
Mufti Anam mempertanyakan komitmen manajemen terhadap target pangsa pasar dan menyebut pembubaran sebagai opsi jika tidak ada dampak langsung ke publik.
Sementara itu, Abdullah Hakim Bafagih menyoroti penurunan margin keuntungan dan kenaikan beban operasional yang dinilai bertentangan dengan strategi efisiensi perusahaan.
Baca juga: Pergerakan IHSG dan Rupiah Hari Ini Kompak Ditutup Melemah
Menanggapi kritik yang datang ke Garuda, Reza kembali menegaskan bahwa proses pemulihan membutuhkan waktu dan dukungan lintas pemangku kepentingan.
Ia menyebut penambahan armada, optimalisasi rute, dan transformasi bisnis sebagai langkah strategis menuju pertumbuhan berkelanjutan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Rapat-dengar-pendapat-RDP-Garuda-Indonesia-dan-Komisi-VI-DPR-Senayan.jpg)