Selasa, 5 Mei 2026

Mengenal Etanol hingga Dampak Penggunaannya bagi Kendaraan Modern dan Lawas, Simak di Sini

Pemerintah mewacanakan penggunaan Etanol sebesar 10 persen pada Bahan Bakar Minyak (BBM).

Tayang: | Diperbarui:
WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
ILUSTRASI BAHAN BAKAR - Pemerintah mewacanakan penggunaan Etanol sebesar 10 persen untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) fosil di Indonesia. Penambahan Etanol 10 persen (E10) pada BBM dilakukan dalam rangka mendukung program energi terbarukan dan ramah lingkungan yang dicanangkan pemerintah.  
Ringkasan Berita:
  • Pemerintah RI mewacanakan penggunaan Etanol sebesar 10 persen pada BBM
  • Etanol merupakan senyawa kimia organik yang sudah lama digunakan sebagai campuran BBM
  • Beberapa negara di dunia sudah menerapkan campuran Etanol pada bahan bakar
  • Penggunaan Etanol pada BBM diklaim lebih ramah lingkungan
  • Kekurangan penggunaan Etanol yakni lebih boros bahan bakar

TRIBUNNEWS.COM – Pemerintah mewacanakan penggunaan Etanol sebesar 10 persen untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) fosil di Indonesia.

Penambahan Etanol 10 persen (E10) pada BBM dilakukan dalam rangka mendukung program energi terbarukan dan ramah lingkungan yang dicanangkan pemerintah. 

Indonesia sendiri sebelumnya telah menerapkan campuran bensin dengan Etanol sebesar 3,5 persen.

Meski demikian, wacana penggunaan Etanol sebesar 10 persen masih menjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Berikut Tribunnews sajikan pengertian hingga dampak penggunaan Etanol bagi kendaraan lawas dan modern.

Pengertian

Berdasarkan penelusuran Tribunnews, Etanol, atau etil alkohol, adalah senyawa kimia organik yang mudah terbakar, tidak berwarna, dan memiliki bau khas. 

Senyawa ini merupakan bahan utama dalam minuman beralkohol dan memiliki berbagai kegunaan lain, termasuk sebagai pelarut, desinfektan, dan bahan bakar alternatif.

Etanol dapat diproduksi secara alami melalui fermentasi tanaman atau melalui proses kimia industri.

Baca juga: Pemerintah Diminta Tak Terburu-buru Terapkan Kebijakan Campuran Etanol 10 Persen pada BBM

Etanol banyak digunakan sebagai pelarut berbagai bahan-bahan kimia yang ditujukan untuk konsumsi dan kegunaan manusia.

Di sisi lain, Etanol juga telah lama digunakan sebagai campuran bahan bakar.

Tujuan penggunaan Etanol di BBM

Tujuan penggunaan etanol untuk bahan bakar adalah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, meningkatkan kualitas dan performa mesin, serta mengurangi emisi gas rumah kaca dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan yang berasal dari tumbuhan.

Selain itu, Etanol juga dapat meningkatkan angka oktan (RON) dan menjaga kebersihan injektor bahan bakar.

Penggunaan Etanol pada BBM di sejumlah negara

Adapun penggunaan Etanol pada BBM telah dilakukan di sejumlah negara.

Sebagai contoh, Amerika Serikat telah menggunakan campuran Etanol 10 persen pada BBM. 

Sementara Argentina hingga 12 persen, kemudian Thailand dan India sebesar 20 persen.

Kelebihan penggunaan E10 pada BBM

Berikut beberapa keunggulan dari campuran Etanol 10 persen pada BBM:

- Lebih Ramah Lingkungan

Kandungan Oksigen pada etanol membuat pembakaran lebih efisien, sehingga mampu mengurangi emisi gas berbahaya seperti Karbon Monoksida (CO) dan Hidrokarbon (HC). Ini adalah langkah konkret untuk meningkatkan kualitas udara perkotaan.

- Meningkatkan Performa Mesin

Etanol memiliki angka oktan yang sangat tinggi. Pencampurannya dengan bensin secara efektif meningkatkan nilai oktan total, yang membuat pembakaran lebih sempurna dan mengurangi risiko knocking. Hasilnya, akselerasi kendaraan terasa lebih responsif.

- Mendukung Kemandirian Energi Nasional

Dengan memanfaatkan etanol yang diproduksi dari tanaman lokal seperti tebu, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah. Ini sejalan dengan agenda energi terbarukan Indonesia dan memperkuat ketahanan energi nasional.

- Mendorong Ekonomi Lokal

Pengembangan industri bioetanol menciptakan permintaan baru bagi petani tebu dan tanaman penghasil etanol lainnya, sehingga memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat pedesaan.

Kekurangan penggunaan E10 pada BBM

Meski punya banyak manfaat, ternyata penggunaan Etanol juga memiliki sejumlah kekurangan, yakni:

- Konsumsi BBM Sedikit Lebih Boros

Kandungan energi etanol lebih rendah dibandingkan dengan bensin murni, sehingga kendaraan mungkin membutuhkan sedikit lebih banyak bahan bakar untuk jarak tempuh yang sama.

- Risiko Korosi pada Komponen Tertentu

Etanol bersifat higroskopis (mudah menyerap air), sehingga pada kendaraan lama yang belum mendukung bahan bakar etanol, dapat menyebabkan karat atau korosi pada tangki dan saluran bahan bakar.

- Keterbatasan Distribusi Awal

Karena masih dalam tahap implementasi bertahap, BBM Pertamina etanol 10 persen (E10) belum tersedia di seluruh SPBU, terutama di daerah terpencil.

Dampak penggunaan E10 bagi kendaraan

Penggunaan Etanol 10 persen tentu juga memiliki dampak tersendiri bagi kendaraan modern dan keluaran lama (lawas).

Lantas bagaimana dampaknya bagi kedua jenis kendaraan tersebut:

- Kendaraan Modern

Mesin dengan rasio kompresi tinggi dan teknologi injeksi akan merasakan manfaat paling signifikan dari E10, seperti performa yang lebih optimal dan pembakaran yang lebih bersih.

- Kendaraan Lama

Bagi pemilik kendaraan keluaran lama (umumnya sebelum tahun 2000), disarankan untuk berhati-hati. 

Etanol memiliki sifat higroskopis (mudah menyerap air) dan bersifat korosif terhadap beberapa material. 

Hal ini berisiko menyebabkan karat pada tangki bahan bakar atau merusak komponen sistem bahan bakar yang terbuat dari karet atau plastik jenis lama.

Baca juga: RI Ikut Tren Global Campur Etanol di Bensin, Akademisi: Bisa Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Kendaraan Honda Aman dengan Penggunaan E10

PT Astra Honda Motor (AHM) sebagai salah satu produsen sepeda motor terbesar di Indonesia buka suara terkait wacana penggunaan Etanol 10 persen pada BBM.

GM Corporate Communication AHM Ahmad Muhibbuddin menjelaskan, sepeda motor Honda generasi sekarang sudah dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan tersebut.

"Kalau di produk Honda, kita bisa sampai E10 (etanol 10 persen). Kalau dari tahun berapa, saya lupa. Tapi yang sekarang, produk sekarang ini, kita bisa sampai E10," tutur Muhib saat dijumpai di Sarinah, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (10/10/2025).

Meski demikian, Muhib mengakui bahwa untuk sepeda motor Honda keluaran lama diperlukan kajian lebih lanjut terkait ketahanannya menggunakan bahan bakar dengan campuran etanol lebih tinggi.

"Problemnya untuk yang kendaraan tua-tua ini. Saya tidak tahu tahunnya, belum bisa sampaikan. Saya tidak tahu tahun berapa, harus cek," ungkapnya.

 

(Tribunnews.com/David Adi/Lita Febriani)

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved